JAKARTA — Indonesia kaya akan kekayaan kuliner yang beragam, tidak hanya makanan populer seperti rendang atau soto, tetapi juga hidangan-hidangan tradisional yang unik, autentik, dan jarang mendapat sorotan media nasional. Masing-masing menyimpan cerita budaya, cita rasa khas, serta cara pengolahan yang berbeda.
- 1. Eungkot Keumamah dari Aceh
- 2. Blengep Cotot Khas Indramayu
- 3. Mie Bancir dari Banjarmasin
- 4. Kapurung dari Luwu Raya
- 5. Kupat Glabed Khas Tegal
- 6. Katuyung dari Banjarmasin
- 7. Wadai Ipau dari Banjarmasin
- 8. Katupat Kandangan dari Kandangan, Kalimantan Selatan
- 9. Kue Rambut dari NTT
- 10. Kupat Bongkok dari Tegal
- 11. Kue Clorot dari Purworejo
- 12. Mi Lethek dari Yogyakarta
Berikut 12 kuliner unik dari berbagai penjuru Nusantara yang patut dicoba dan dilestarikan:
1. Eungkot Keumamah dari Aceh
Salah satu kuliner legendaris Aceh ini sering disebut “ikan kayu” karena terbuat dari ikan tongkol (atau cakalang/tuna) yang direbus, dikeringkan hingga keras seperti kayu, lalu disuwir-suwir. Eungkot keumamah biasanya dimasak dengan kuah pedas gurih berbahan cabai hijau, daun kari, rempah, dan kadang santan. Teksturnya kenyal unik, aroma rempah kuat, dan rasa pedasnya bikin nagih. Hidangan ini menjadi bukti kearifan masyarakat Aceh dalam mengawetkan ikan tanpa pendingin modern.
2. Blengep Cotot Khas Indramayu
Jajanan tradisional dari Indramayu, Jawa Barat, ini terbuat dari singkong yang direbus lalu ditumbuk halus, dibentuk pipih, dan diisi campuran gula merah, kelapa parut sangrai, serta kacang tanah tumbuk. Namanya unik karena “blengep” menggambarkan suara saat digigit, sementara “cotot” merujuk pada isian yang “meletup” manis di mulut. Camilan ini langka, biasanya hanya ditemui di pasar tradisional atau kampung-kampung di Indramayu, dan sering jadi takjil favorit saat Ramadan.
3. Mie Bancir dari Banjarmasin
Mie bancir adalah hidangan mie kuah khas Banjar, Kalimantan Selatan, yang kaya rempah. Mie kenyal disiram kuah nanggung (kuah kental) berbahan bawang, jahe, kemiri, dan rempah khas Banjar, ditambah ayam suwir, telur rebus, serta sayuran seperti kol atau sawi. Cita rasanya gurih, sedikit manis, dan harum rempah. Kuliner ini mencerminkan akulturasi budaya Banjar dengan pengaruh Jawa dan Melayu, dan masih populer di warung-warung legendaris Banjarmasin.
4. Kapurung dari Luwu Raya
Makanan pokok tradisional masyarakat Luwu, Sulawesi Selatan, ini terbuat dari sagu yang diolah menjadi bulatan kenyal mirip papeda dari Papua. Kapurung disajikan bersama kuah ikan kuning pedas, sayur daun singkong, rebung, labu kuning, dan ikan asap atau ikan segar. Cara makan khasnya dengan menyendok sagu lalu dicelup ke kuah. Hidangan sehat dan bergizi ini jarang dikenal di luar Sulawesi, padahal menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat pedalaman Luwu.
5. Kupat Glabed Khas Tegal
Sekilas mirip kupat tahu atau lontong opor, tetapi kupat glabed punya ciri khas kuah kental (glabed) berempah gurih-pedas dengan santan, kacang, dan bumbu lengkap. Disajikan bersama ketupat, sate kerang, sate kikil kambing, telur puyuh, dan kerupuk. Kuliner ini banyak ditemui di daerah Randugunting, Tegal Selatan, dan menjadi ikon kuliner pantai utara Jawa Tengah yang kaya rasa.
6. Katuyung dari Banjarmasin
Katuyung (atau ketuyung) adalah siput sungai besar yang diolah menjadi masakan kuah santan pedas atau gangan belamak. Dagingnya kenyal, mirip keong, dan dimasak bersama labu kuning, jagung, rebung, serta rempah khas Banjar. Rasanya gurih, pedas, dan segar, sering jadi lauk spesial di rumah-rumah Banjarmasin. Kuliner unik ini menunjukkan bagaimana masyarakat Banjar memanfaatkan hasil alam sungai secara kreatif.
7. Wadai Ipau dari Banjarmasin
Hidangan tradisional Banjar ini terbuat dari daging sapi atau ayam yang dimasak dengan bumbu rempah lengkap, sering berkuah kental dan sedikit manis. Wadai ipau biasanya disajikan pada acara adat atau hari besar, dengan cita rasa yang kaya dan tekstur empuk. Meski jarang dipromosikan, makanan ini menjadi bagian penting kekayaan kuliner Kalimantan Selatan.
8. Katupat Kandangan dari Kandangan, Kalimantan Selatan
Berbeda dengan ketupat biasa, katupat Kandangan disajikan bersama lauk khas seperti ikan haruan (gabus) masak bumbu kuning, telur asin, dan sayur nangka muda. Kuahnya gurih, rempahnya terasa kuat, dan sering dimakan saat acara keluarga atau hari raya. Kuliner ini menjadi kebanggaan masyarakat Kandangan dan sekitarnya.
9. Kue Rambut dari NTT
Kue tradisional Nusa Tenggara Timur ini terbuat dari tepung beras atau tepung sagu yang digoreng tipis hingga berbentuk seperti rambut keriting renyah. Rasanya manis gurih, sering diberi taburan gula atau kelapa. Camilan ini sederhana namun unik, biasanya muncul saat perayaan adat atau Lebaran di NTT.
10. Kupat Bongkok dari Tegal
Varian lain dari kuliner Tegal, kupat bongkok memiliki bentuk ketupat yang “bongkok” atau melengkung karena cara membungkus daun kelapa yang khas. Disajikan dengan kuah opor atau kuah kacang, sering dipadukan dengan tahu, tempe, dan telur. Cita rasanya mirip kupat glabed, namun bentuknya menjadi daya tarik tersendiri.
11. Kue Clorot dari Purworejo
Kue basah khas Purworejo, Jawa Tengah, ini terbuat dari tepung beras dan santan, dibungkus daun kelapa lalu dikukus hingga padat. Bentuknya silinder panjang, rasanya manis legit dengan aroma santan kuat. Kue clorot sering disajikan pada acara syukuran atau hari besar, dan termasuk jajanan tradisional yang mulai langka.
12. Mi Lethek dari Yogyakarta
Mie tradisional dari tepung singkong (bukan tepung terigu), berwarna kecokelatan alami, kenyal unik, dan biasanya disajikan dengan bumbu kacang, sayur, atau kuah kaldu. Mi lethek berasal dari daerah pedesaan Yogyakarta dan menjadi bukti kreativitas masyarakat menggunakan bahan lokal saat tepung terigu langka. Rasanya gurih dan berbeda dari mie pada umumnya.
Kuliner-kuliner di atas menunjukkan betapa beragamnya warisan kuliner Indonesia yang belum banyak terekspos. Dari ikan kayu Aceh hingga mie singkong Yogyakarta, setiap hidangan membawa cerita budaya, adaptasi lingkungan, dan rasa autentik yang sulit ditiru. Cobalah kunjungi daerah asalnya atau cari resep asli untuk melestarikan kekayaan ini.