Aksi protes yang bermula di Grand Bazaar, Tehran Iran, pada 28 Desember kini berkembang menjadi pemberontakan nasional. Demonstrasi telah terdokumentasi di seluruh 31 provinsi di Iran, menandai kerusuhan terpanjang dan paling luas dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan laporan Badan Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 42 orang tewas—terdiri dari 34 demonstran dan delapan anggota aparat keamanan—sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap oleh pihak berwenang.
Gelombang protes dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang Iran hingga 1,47 juta rial per dolar AS, sebuah titik terendah bersejarah yang mencerminkan kejatuhan hampir 20.000 kali lipat sejak Revolusi Islam 1979, ketika kurs masih berada di kisaran 70 rial per dolar.
Apa yang semula berupa keluhan ekonomi dengan cepat berubah menjadi tuntutan politik yang lebih luas. Seruan seperti “Matilah sang diktator” dan “Matilah Khamenei” menggema dari jalan-jalan Tehran hingga kota-kota di wilayah provinsi.
Represi Berdarah dan Pemadaman Internet Massal
Aparat keamanan merespons demonstrasi dengan gas air mata, meriam air, hingga peluru tajam. Insiden paling mematikan terjadi di Malekshahi, Provinsi Ilam, ketika pasukan keamanan menembaki kerumunan di sekitar markas paramiliter Basij, menewaskan sedikitnya lima demonstran.
Human Rights Watch dan Amnesty International mencatat penggunaan kekuatan mematikan terhadap massa yang sebagian besar bersifat damai. Laporan mereka menyebutkan setidaknya empat korban tewas merupakan anak di bawah usia 18 tahun.
Pada 8 Januari, pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total, bertepatan dengan seruan aksi nasional dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Lembaga pemantau jaringan NetBlocks mencatat konektivitas internet turun hingga hanya 5 persen, sementara data Cloudflare menunjukkan penurunan lalu lintas sebesar 98,5 persen, yang dinilai sebagai pemblokiran “disengaja dan direkayasa”.
Krisis Ekonomi dan Bayang-Bayang IRGC
Krisis yang melanda Iran tidak lepas dari sanksi internasional berkepanjangan, inflasi kronis, serta dominasi ekonomi oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Korps elit tersebut telah memperluas pengaruhnya jauh melampaui sektor militer, merambah konstruksi, energi, pelabuhan, telekomunikasi, hingga minyak melalui berbagai entitas bisnis yang minim pengawasan sipil.
World Bank mencatat Iran telah mengalami “satu dekade kehilangan pertumbuhan ekonomi”, dengan hampir 10 juta penduduk jatuh ke jurang kemiskinan antara 2014 dan 2020.
Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian merespons krisis dengan kebijakan subsidi sekitar US$7 per orang per bulan selama empat bulan, langkah yang banyak dikritik sebagai tidak memadai di tengah upah rata-rata bulanan sekitar US$200.
Harian Setareh Sobh menulis, kejatuhan nilai rial merupakan akibat dari “kebijakan penyanderaan, permusuhan berkepanjangan terhadap Barat dan Israel, salah kelola ekonomi, serta tersingkirnya para ahli dari parlemen dan pemerintahan.”