JAKARTA — Eco-anxiety atau kecemasan lingkungan semakin sering dibicarakan belakangan ini, terutama di kalangan anak muda Indonesia yang peka terhadap isu perubahan iklim. Kondisi ini muncul sebagai respons emosional berupa rasa takut berlebih, gelisah, sedih, hingga perasaan tidak berdaya ketika menyaksikan kerusakan alam seperti banjir, kekeringan, polusi, dan kepunahan spesies.
Menurut American Psychological Association, eco-anxiety didefinisikan sebagai ketakutan kronis akan malapetaka lingkungan yang tampak tak terelakkan, sering kali dipicu oleh berita buruk dan pengalaman langsung bencana alam di Tanah Air.
Di Indonesia, fenomena ini cukup relevan mengingat negara kita rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari naiknya permukaan air laut hingga cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Banyak generasi muda merasakan beban psikologis ini. Meski bukan gangguan klinis resmi, jika dibiarkan bisa memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan, seperti menimbulkan stres berkepanjangan atau gangguan tidur.
Untungnya, ada sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menyikapi eco-anxiety secara sehat. Berikut 5 cara mengelola kecemasan lingkungan agar tetap produktif dan optimis menghadapi tantangan iklim:
1. Batasi Asupan Informasi yang Berlebihan
Konsumsi berita lingkungan yang intensif, terutama konten negatif di media sosial, sering kali memperburuk perasaan eco-anxiety. Cobalah menyaring sumber informasi dengan memilih media kredibel dan membatasi waktu scrolling. Fokuslah pada berita solusi atau kemajuan positif, seperti keberhasilan restorasi hutan atau kebijakan ramah lingkungan. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan mental tanpa mengabaikan realitas.
2. Alihkan Energi ke Aksi Nyata Kecil
Mulai dari hal sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mematikan lampu saat tidak diperlukan, memisahkan sampah untuk daur ulang, atau menghemat air dan listrik. Tindakan kecil ini memberikan rasa kontribusi dan mengurangi perasaan tidak berdaya. Banyak ahli menyarankan bahwa melakukan perubahan gaya hidup berkelanjutan justru menjadi terapi efektif, sering disebut ecotherapy, karena mendekatkan diri kembali dengan alam.
3. Bergabung dengan Komunitas Lingkungan
Merasa sendirian dalam menghadapi isu besar seperti ini bisa memperparah kecemasan. Dengan terlibat dalam kelompok relawan, komunitas lokal penghijauan, atau diskusi online, seseorang bisa berbagi pengalaman dan saling mendukung. Di Indonesia, banyak inisiatif pemuda yang aktif membersihkan sungai, menanam pohon, atau mengadvokasi kebijakan hijau. Dukungan sosial ini terbukti memperkuat rasa efikasi diri dan komunitas.
4. Arahkan ke Partisipasi Publik yang Lebih Luas
Jika merasa cukup siap, ikut serta dalam advokasi kebijakan lingkungan bisa menjadi langkah bermakna. Misalnya, mendukung petisi perlindungan hutan, menghadiri forum diskusi iklim, atau bahkan menulis surat kepada pejabat daerah tentang isu lokal seperti pengelolaan sampah. Partisipasi semacam ini mengubah rasa takut menjadi aksi kolektif yang membangun harapan.
5. Jaga Keseimbangan Mental
Praktik mindfulness, meditasi, olahraga ringan, atau sekadar berjalan-jalan di taman dan hutan bisa membantu meredakan gejala kecemasan. Mendekatkan diri dengan alam melalui kegiatan seperti berkebun atau forest bathing juga terbukti menenangkan pikiran. Jika gejala terasa berat, seperti sulit tidur berkepanjangan atau pikiran negatif mendominasi, jangan ragu mencari bantuan profesional dari psikolog atau konselor.