Pembangunan toilet di SDN 3 Parepare, Sulawesi Selatan, tengah menjadi sorotan publik setelah diketahui menelan anggaran hingga Rp166 juta untuk satu unit. Biaya fantastis tersebut turut dikritik oleh Wakil Ketua DPRD Parepare, yang menilai nominal itu tidak masuk akal untuk ukuran pembangunan fasilitas toilet di sekolah dasar.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Parepare diketahui mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,3 miliar untuk membangun 21 toilet di sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Program pembangunan ini dilakukan secara serentak di berbagai sekolah, namun justru memunculkan tanda tanya publik mengenai rincian penggunaan anggaran yang terbilang besar.
Berikut beberapa fakta menarik dan kontroversi seputar pembangunan toilet senilai Rp166 juta di Parepare yang kini tengah ramai diperbincangkan masyarakat.
1. Anggaran Toilet SD Rp166 Juta
Proyek pembangunan toilet di SDN 03 Parepare yang menelan anggaran Rp166 juta per unit kini menjadi sorotan tajam publik setelah viral di media sosial. Dugaan markup anggaran yang mencuat dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Parepare memicu perdebatan sengit soal transparansi dan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik APBN 2025. Sementara itu, update terbaru menunjukkan proyek berada di tahap akhir pondasi, meski dikelilingi kontroversi.
2. Bangunan Seluas 50 Meter
Proyek ini, yang dirancang untuk membangun fasilitas sanitasi modern seluas sekitar 50 meter persegi, mencakup enam bilik siswa (terpisah laki-laki dan perempuan), dua bilik guru, wastafel injak, sistem limbah ramah lingkungan, serta pencahayaan LED. Bersumber dari DAK senilai total Rp3,3 miliar untuk 21 unit toilet di berbagai SD dan SMP Parepare, inisiatif ini bagian dari program nasional Kemendikbudristek guna tingkatkan sanitasi sekolah. Namun, biaya per unit yang setara harga rumah subsidi (Rp150-200 juta) memicu tudingan bahwa ada markup signifikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
3. DPRD Curiga Mark Up Anggaran
Dugaan ini pertama kali disuarakan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPRD Parepare, Andi Akmal, dalam sidang paripurna minggu lalu. “Kami curiga ada markup hingga 30-40% dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Anggaran Rp166 juta untuk toilet 4×4 meter terlalu fantastis, padahal RAB standar untuk proyek serupa hanya Rp50-80 juta,” tegas Akmal saat ditemui wartawan di Gedung DPRD, Senin (11/11/2025). Ia menambahkan, DPRD telah meminta audit internal dari Inspektorat Kota Parepare dan akan sidak langsung ke lokasi pekan depan.
4. Dindikbud Sebut Anggaran Sesuai
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Parepare, Makmur, membela proyek ini dengan menyebut anggaran sudah sesuai HPS dan mencakup fasilitas inklusif seperti kloset duduk, wastafel anti-bakteri, serta instalasi septic tank modern. “Ini wajar karena desainnya ramah disabilitas dan tahan gempa. Bandingkan dengan proyek toilet SD di Pandeglang tahun lalu yang Rp104 juta per unit—kami lebih lengkap,” ujarnya di sela tinjauan lapangan.
5. Ada 21 Toilet Total Anggaran Rp3,3 M
Pembangunan 21 toilet SD dan SMP di Parepare menelan anggaran Rp 3,3 miliar. Pemkot mengucurkan anggaran rata-rata setiap sekolah sebesar Rp 166 juta. Merujuk data di laman LPSE Parepare, sebanyak 21 paket pembangunan toilet sekolah. Pembangunan toilet sekolah itu masuk dalam kolom non tender atau pengadaan langsung. Dari 21 pembangunan toilet itu terdiri dari 13 SD dan 8 SMP. Nilai kontrak dari 21 paket pembangunan toilet sekolah itu mulai dari Rp 163,9 juta hingga Rp 166,8 juta.