JAKARTA — Setiap tanggal 5 Februari, Indonesia memperingati Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi, salah satu episode bersejarah yang mencerminkan semangat perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Peristiwa ini terjadi pada 1933 dan melibatkan pemberontakan awak kapal perang De Zeven Provinciën.
Meski berakhir tragis, kejadian tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah perjuangan bangsa. Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi bukan sekadar pemberontakan biasa. Ia menunjukkan solidaritas lintas etnis di tengah sistem kolonial yang diskriminatif.
Berikut lima fakta penting yang perlu diketahui tentang peristiwa bersejarah ini:
1. Terjadi pada Februari 1933 di Perairan Hindia Belanda
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi berlangsung antara 4 hingga 11 Februari 1933 di perairan Hindia Belanda, tepatnya di sekitar Sumatra. Pemberontakan ini melibatkan kapal perang modern milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda bernama Hr. Ms. De Zeven Provinciën.
Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Aceh menuju Batavia (kini Jakarta) ketika awaknya mengambil alih kendali. Pemberontakan ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar dan paling berani dalam sejarah angkatan laut kolonial Belanda. Para pelaut melakukan aksi mogok dan menguasai kapal selama hampir seminggu, menuntut perubahan kebijakan yang mereka anggap tidak adil.
2. Melibatkan Awak Kapal dari Berbagai Etnis
Yang membuat peristiwa ini istimewa adalah keterlibatan awak kapal multietnis. Para pemberontak terdiri atas pelaut pribumi Indonesia dan pelaut Belanda yang bertugas bersama di kapal yang sama. Mereka bersatu padu melawan kebijakan pemerintah kolonial.
Solidaritas ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya datang dari kalangan nasionalis di darat, tetapi juga muncul dari dalam institusi militer kolonial itu sendiri. Para awak kapal, baik Indonesia maupun Belanda, memiliki kesadaran kelas yang sama sebagai pekerja yang tertindas.
3. Dipicu Pemotongan Gaji dan Perlakuan Diskriminatif
Pemicu utama pemberontakan adalah kebijakan pemotongan gaji yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda pada 1933. Pemotongan ini dilakukan sebagai respons terhadap krisis ekonomi global akibat Depresi Besar. Namun, pemotongan gaji lebih berat dirasakan oleh pelaut pribumi dibandingkan pelaut Eropa.
Selain itu, diskriminasi dalam angkatan laut kolonial sangat nyata. Pelaut Indonesia mendapat gaji lebih rendah, fasilitas lebih buruk, dan kesempatan promosi yang terbatas dibandingkan rekan mereka dari Belanda. Ketidakadilan ini memicu kemarahan yang akhirnya meledak menjadi pemberontakan terbuka.
4. Berakhir dengan Pemboman oleh Pesawat Militer Belanda
Pemerintah kolonial Belanda merespons pemberontakan dengan tindakan keras. Setelah negosiasi gagal, mereka memutuskan menggunakan kekuatan militer. Pada 10 Februari 1933, kapal De Zeven Provinciën dibom oleh pesawat tempur Belanda di perairan dekat Selat Sunda.
Serangan udara ini menewaskan 23 awak kapal dan melukai puluhan lainnya. Kapal akhirnya menyerah pada 11 Februari 1933. Para pemberontak yang selamat ditangkap dan diadili. Tindakan ini menunjukkan betapa paniknya pemerintah kolonial terhadap ancaman dari dalam sistem mereka sendiri.
5. Menjadi Simbol Perlawanan dan Solidaritas Antikolonial
Meskipun gagal mencapai tujuan langsung, Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi tetap dikenang sebagai simbol penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Kejadian ini membuktikan bahwa semangat antikolonial telah merasuki berbagai lapisan masyarakat, termasuk institusi militer penjajah.
Peristiwa ini juga menginspirasi gerakan nasionalis di kemudian hari. Solidaritas antara pelaut Indonesia dan Belanda menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme bisa bersifat lintas etnis dan lintas kelas. Hingga kini, setiap 5 Februari diperingati untuk mengenang keberanian mereka dan mengambil pelajaran dari keteguhan prinsip di tengah tekanan.
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi mengingatkan kita bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu berupa pertempuran bersenjata di darat. Kadang, ia muncul dari tempat yang paling tidak diduga, seperti di tengah laut dan dari dalam barisan musuh sendiri. Memperingati hari ini berarti menghargai setiap bentuk perlawanan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaan pada 1945.
Dengan memahami lima fakta ini, kita dapat lebih menghargai kompleksitas sejarah perjuangan bangsa. Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi bukan hanya catatan masa lalu, melainkan warisan yang terus relevan untuk mengingatkan pentingnya keadilan dan persatuan.
