JAKARTA — Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal 17 Agustus 1945 sebagai hari proklamasi kemerdekaan yang dibacakan Soekarno-Hatta di Jakarta. Namun, ada peristiwa penting yang kurang dikenal luas, yaitu pembacaan proklamasi kemerdekaan lebih awal di Cirebon pada 15 Agustus 1945. Peristiwa ini melibatkan tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir dan dr. Soedarsono, serta menjadi bagian dari dinamika perebutan momentum kemerdekaan.
- 1. Proklamasi di Cirebon Terjadi Dua Hari Sebelum 17 Agustus 1945
- 2. Sutan Sjahrir dan dr. Soedarsono Jadi Tokoh Sentral
- 3. Sjahrir Ingin Proklamasi Secepat Mungkin Setelah Jepang Menyerah
- 4. Isi Teks Proklamasi Cirebon Masih Menjadi Misteri
- 5. Proklamasi Cirebon Berpengaruh pada Peristiwa Rengasdengklok
Berikut lima fakta penting tentang proklamasi kemerdekaan di Cirebon yang jarang diketahui publik:
1. Proklamasi di Cirebon Terjadi Dua Hari Sebelum 17 Agustus 1945
Proklamasi kemerdekaan pertama kali dibacakan pada 15 Agustus 1945 di Alun-Alun Kejaksan, Jalan Kartini, Kota Cirebon, Jawa Barat. Peristiwa ini berlangsung tepat dua hari sebelum pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta.
Menurut budayawan Cirebon Nurdin M. Noer dalam wawancara dengan Tribunnews pada 15 Agustus 2019, Cirebon dipilih karena dianggap masih relatif aman dari pengawasan tentara Jepang pada saat itu. Lokasi ini memungkinkan para pejuang menggelar acara tanpa gangguan besar, meski tetap dalam suasana tegang.
2. Sutan Sjahrir dan dr. Soedarsono Jadi Tokoh Sentral
Inisiator utama proklamasi kemerdekaan di Cirebon adalah Sutan Sjahrir, tokoh pergerakan bawah tanah yang dekat dengan Mohammad Hatta. Sjahrir mengirim telegram kepada dr. Soedarsono, dokter di Rumah Sakit Oranje (kini RSD Gunung Jati Cirebon) yang juga kader PNI Pendidikan.
Telegram itu memerintahkan Soedarsono untuk membacakan teks proklamasi kemerdaan yang telah disiapkan. Soedarsono kemudian terpilih sebagai pembaca karena dianggap mampu dan berpendidikan tinggi. Sekitar 150 orang hadir menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut di Alun-Alun Kejaksan.
3. Sjahrir Ingin Proklamasi Secepat Mungkin Setelah Jepang Menyerah
Sjahrir mendengar berita kekalahan Jepang dari siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945. Ia berpendapat bahwa Indonesia harus segera memproklamasikan kemerdekaan sebagai bentuk perlawanan murni terhadap Jepang, bukan kompromi setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus.
Sjahrir sempat mendesak Soekarno dan Hatta untuk bertindak sebelum 15 Agustus, tetapi ditolak. Penolakan itu membuat Sjahrir kecewa berat hingga memicu ketegangan dengan Soekarno. Karena tidak berhasil di Jakarta, ia mengalihkan rencana ke Cirebon melalui dr. Soedarsono.
4. Isi Teks Proklamasi Cirebon Masih Menjadi Misteri
Hingga kini, naskah asli teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon belum ditemukan. Ada dua versi yang beredar di kalangan sejarawan.
Versi pertama menyebutkan teks disusun oleh Sjahrir bersama aktivis seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Des Alwi, anak angkat Sjahrir, pernah mengingat satu kalimat inti: Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah oleh siapa pun juga.
Versi kedua menyatakan teks ditulis oleh Maroeto Nitimihardjo tanpa campur tangan Sjahrir. Meski isi pastinya belum pasti, yang jelas peristiwa itu benar-benar terjadi dan menjadi tonggak awal penyebaran kabar kemerdekaan.
5. Proklamasi Cirebon Berpengaruh pada Peristiwa Rengasdengklok
Setelah pembacaan proklamasi di Cirebon, kabar kemerdekaan cepat menyebar ke berbagai kecamatan di sekitar Cirebon, seperti Waled, Palimanan, dan Plumbon. Nurdin M. Noer menilai peristiwa ini menjadi cikal bakal yang mendorong proklamasi resmi pada 17 Agustus.
Bahkan, ada kaitan dengan peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 dini hari. Dalam otobiografinya, Soekarno menyebut Sjahrir turut memengaruhi pemuda Menteng 31 untuk mendesaknya bertindak cepat. Tekanan dari berbagai pihak, termasuk gelombang dari Cirebon, akhirnya membuat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta.
Peristiwa proklamasi kemerdekaan di Cirebon menunjukkan betapa dinamisnya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berbagai kelompok pejuang bergerak secara paralel untuk merebut momentum bersejarah tersebut. Meski kurang populer dibandingkan proklamasi 17 Agustus, kontribusi Cirebon tetap menjadi bagian penting dalam narasi kemerdekaan bangsa.
