JAKARTA — Salah jurusan merupakan masalah umum yang dialami oleh mahasiswa. Fenomena ini lumrah terjadi karena keputusan sering diambil di usia muda dengan informasi terbatas serta pengaruh dari orang tua atau teman.
Namun, ketika mahasiswa memang salah jurusan, itu bukan berarti mereka mengalami kegagalan total. Justru ini kesempatan untuk menyesuaikan langkah agar masa depan lebih sesuai dengan minat dan bakat.
Berikut lima langkah praktis yang bisa dilakukan:
1. Validasi Perasaan tanpa Menyalahkan Diri Sendiri
Rasa ragu atau kecewa saat merasa salah jurusan itu sangat wajar. Pilihan jurusan sering dibuat saat masih remaja dengan tekanan eksternal. Mengakui emosi ini adalah langkah awal yang sehat.
Di luar sana banyak tokoh sukses di suatu bidang yang tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya. Contohnya adalah Chairul Tanjung yang awalnya mengambil jurusan kedokteran gigi, tapi akhirnya berkarier di bisnis. Daripada menyesal, gunakan perasaan ini sebagai motivasi untuk mencari solusi.
2. Bedakan Ketidaksukaan terhadap Ilmu atau Situasi Sekitar
Lakukan refleksi jujur saat merasa salah jurusan. Apakah kamu benar-benar tidak suka materi kuliahnya? Atau hanya lelah karena tugas menumpuk, gaya mengajar dosen, atau lingkungan kampus?
Kadang masalah datang dari faktor sementara seperti metode belajar yang kurang tepat. Jika hanya situasional, coba perbaiki dengan berganti kelompok diskusi atau mencari pendekatan baru. Bila memang ilmunya tidak cocok, disarankan untuk mempertimbangkan opsi lain.
3. Temukan Irisan antara Jurusan dan Minat Pribadi
Hampir semua jurusan memberikan keterampilan yang bisa dipakai di berbagai bidang, seperti analisis, riset, komunikasi, atau pengelolaan data. Lulusan teknik sering sukses di manajemen, sementara alumni humaniora banyak berkarier di konten digital.
Fokus asah skill transferable dari jurusan sekarang untuk mendukung passion pribadi. Banyak profesional Indonesia yang bekerja di luar bidang studi awal membuktikan fleksibilitas ini berharga.
4. Bangun Jalur Alternatif dari Sekarang
Jangan menunggu sampai lulus baru bertindak. Mulai ikuti kelas online, cari magang di bidang yang diminati, atau gabung organisasi dan proyek sampingan. Aktivitas ini membangun portofolio tambahan tanpa harus pindah jurusan yang prosesnya rumit.
Banyak mahasiswa menemukan arah baru melalui pengalaman ekstrakurikuler, sehingga tetap lulus tepat waktu dengan bekal lebih kuat.
5. Diskusikan dengan Pihak yang Kompeten
Hindari meminta saran hanya ke teman yang mungkin memberikan saran emosional. Lebih baik bicara dengan senior, alumni, dosen pembimbing, atau konselor kampus. Mereka punya pengalaman dan informasi objektif tentang prospek karier atau kemungkinan pindah jurusan. Perspektif ini membantu pengambilan keputusan yang lebih matang dan realistis.
