JAKARTA – Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, mulai dari rekomendasi konten di media sosial, asisten virtual di ponsel, hingga otomatisasi di berbagai industri. Teknologi ini memang menawarkan efisiensi dan kemudahan yang luar biasa, tetapi di balik kemajuannya, AI juga membawa sejumlah dampak negatif yang kian terasa, baik secara sosial, ekonomi, psikologis, maupun etis.
- 1. Hilangnya Pekerjaan akibat Otomatisasi
- 2. Ketimpangan Ekonomi yang Semakin Melebar
- 3. Manipulasi Opini Publik dan Kejahatan Siber via Deepfake
- 4. Pelanggaran Privasi Data dan Risiko Kebocoran
- 5. Bias dan Diskriminasi yang Diperkuat Algoritma
- 6. Ketergantungan Berlebih yang Melemahkan Kemampuan Manusia
- 7. Masalah Kesehatan Mental dan Kesepian
Di Indonesia, isu seperti pengangguran akibat otomatisasi, penyebaran deepfake, pelanggaran privasi data, hingga melemahnya kemampuan berpikir kritis manusia semakin sering dibahas oleh pakar dan masyarakat.
Berikut tujuh dampak buruk utama penggunaan AI yang perlu diwaspadai secara lebih luas.
1. Hilangnya Pekerjaan akibat Otomatisasi
AI mampu menggantikan tugas berulang di berbagai sektor, seperti manufaktur, layanan pelanggan, perbankan, hingga analisis data. Di Indonesia, hal ini berpotensi meningkatkan angka pengangguran, terutama bagi pekerja dengan keterampilan rendah atau menengah. Banyak pekerjaan seperti teller bank, kasir, telemarketing, dan pekerja pabrik telah tergantikan, memperlebar ketimpangan ekonomi antara yang menguasai teknologi dan yang tidak.
2. Ketimpangan Ekonomi yang Semakin Melebar
Biaya implementasi AI yang tinggi membuat hanya perusahaan besar atau negara maju yang mampu mengadopsinya. Akibatnya, jurang antara kelompok kaya dan miskin semakin dalam, termasuk kesenjangan digital antara perkotaan dan pedesaan di Indonesia.
3. Manipulasi Opini Publik dan Kejahatan Siber via Deepfake
Teknologi deepfake yang semakin canggih memungkinkan pembuatan video atau audio palsu yang sulit dibedakan dari asli. Kasus penipuan berbasis deepfake meningkat drastis, menyebabkan kerugian bisnis miliaran rupiah, penyebaran hoaks, propaganda, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial, dan politik.
4. Pelanggaran Privasi Data dan Risiko Kebocoran
AI membutuhkan data pribadi dalam jumlah besar untuk belajar. Hal ini meningkatkan risiko kebocoran data, penyalahgunaan informasi pribadi, serta serangan siber yang lebih canggih seperti ransomware. Di era digital Indonesia, hal ini mengancam keamanan data medis, finansial, hingga jejak digital warga.
5. Bias dan Diskriminasi yang Diperkuat Algoritma
Algoritma AI sering kali mewarisi bias dari data latih yang mencerminkan ketidakadilan sosial. Akibatnya, keputusan AI dalam rekrutmen, pemberian kredit, atau sistem peradilan bisa diskriminatif terhadap kelompok tertentu berdasarkan gender, ras, atau latar belakang ekonomi, memperburuk ketidakadilan yang sudah ada.
6. Ketergantungan Berlebih yang Melemahkan Kemampuan Manusia
Terlalu bergantung pada AI untuk tugas sehari-hari dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, serta keterampilan sosial. Di kalangan anak muda dan pekerja, hal ini berpotensi menurunkan motivasi belajar mandiri dan interaksi manusiawi.
7. Masalah Kesehatan Mental dan Kesepian
Interaksi berlebih dengan AI, seperti curhat pada chatbot atau asisten virtual, dapat menyebabkan isolasi sosial, kecemasan, stres, hingga rasa kehilangan kendali. Penelitian menunjukkan ketergantungan ini memicu gejala kesepian, insomnia, dan penurunan resiliensi emosional, terutama di kalangan generasi muda yang aktif menggunakan teknologi.
Meski AI membawa peluang besar, dampak negatifnya tidak bisa diabaikan. Di Indonesia, pemerintah tengah menyiapkan regulasi melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang peta jalan AI nasional dan etika penggunaan AI.
Agar risiko penggunaan diminamilisir diperlukan regulasi yang jelas, peningkatan literasi AI bagi masyarakat, pelatihan ulang tenaga kerja, serta pengembangan AI yang bertanggung jawab dan etis. Masyarakat diimbau untuk bijak menggunakan AI: tetap kritis, lindungi data pribadi, dan jaga interaksi sosial nyata. Dengan pendekatan seimbang, AI bisa menjadi alat kemajuan, bukan ancaman bagi kemanusiaan. (Sumber: ANTARA News, Bisnis.com, kumparan, VIDA, dan berbagai riset AI terkini di Indonesia)