Konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencapai puncaknya pada 26 November 2025, ketika Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahyar secara resmi mencopot Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Umum melalui Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025.
Kisruh ini dipicu oleh polemik undangan akademikus pro-Israel dan desakan mundur dari Syuriyah PBNU, menandai salah satu krisis kepemimpinan terbesar dalam sejarah NU pasca-kemerdekaan. Berikut 8 fakta menarik dari peristiwa ini, berdasarkan kronologi dan dokumen resmi:
1. Dipicu Undangan Kontroversial Peter Berkowitz
Konflik bermula dari undangan Gus Yahya kepada Peter Berkowitz, akademikus AS yang dikenal pro-Israel dan penasihat kebijakan luar negeri Trump, untuk acara diskusi di PBNU pada Oktober 2025. Syuriyah PBNU anggap ini bertentangan dengan sikap resmi NU yang pro-Palestina, memicu Risalah Rapat Harian Syuriyah yang mendesak Gus Yahya mundur.
2. Desakan Mundur dari Syuriyah, Bukan Pemakzulan Resmi
Syuriyah PBNU, sebagai badan pengawas spiritual, mengeluarkan risalah pada 20 November 2025 yang meminta Gus Yahya mundur karena “ketidaksesuaian visi” dengan fatwa anti-normalisasi dengan Israel. Namun, ini bukan pemakzulan formal—melainkan tekanan moral yang berujung surat edaran Rais Aam untuk ambil alih sementara.
3. Gus Yahya Tolak Mundur, Sebut Belum Terima Surat Fisik
Gus Yahya menolak desakan mundur pada 23 November, dengan alasan “belum menerima surat risalah secara fisik” dan klaim dukungan dari Tanfidziyah PBNU. Pernyataannya ini memicu perdebatan sengit di media sosial, di mana ia tegaskan: “Saya tetap setia pada PBNU, tapi keputusan ini tidak lazim.”
4. Pencopotan “Paket” Bersama Penasihat Khusus
Tak hanya Gus Yahya, Charles Holland Taylor—penasihat khususnya yang berbasis di AS—juga dicopot melalui Surat Edaran Nomor 4780/PB.23/A.II.10.71/99/11/2025 pada 24 November. Taylor, yang dikenal sebagai influencer NU di Barat, dituduh “mempromosikan narasi pro-Israel” melalui hubungannya dengan Berkowitz.
5. Rais Aam Ambil Alih: Miftachul Ahyar Jadi Plt Ketua Umum
KH Miftachul Ahyar, Rais Aam PBNU, ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum hingga Muktamar 2026. Keputusan ini diambil untuk “menjaga keutuhan organisasi,” meski Gus Yahya dilarang pakai atribut PBNU secara resmi—termasuk logo dan gelar resmi.
6. Dukungan Pecah: Tanfidziyah vs Syuriyah
Konflik ini pecah antara Tanfidziyah (eksekutif, pro-Gus Yahya) dan Syuriyah (spiritual, anti-undangan Berkowitz). Sebanyak 70% pengurus Tanfidziyah dukung Gus Yahya, tapi Syuriyah klaim mayoritas ulama senior setuju pemecatan—memicu isu “pemecah belah NU” yang viral di X dengan #GusYahyaDicopot.
7. Latar Belakang Geopolitik: Pro-Palestina vs Diplomasi Global
Gus Yahya, yang aktif di forum internasional seperti G20 2022, sering undang tokoh Barat untuk dialog. Kritikus Syuriyah anggap ini “normalisasi terselubung” dengan Israel, terutama pasca-fatwa NU 2023 yang tegas anti-Zionisme. Ini jadi puncak ketegangan internal sejak Gus Yahya terpilih 2021.
8. Dampak Sosial: Demo dan Ancaman Muktamar Luar Biasa
Pencopotan ini picu demo pendukung Gus Yahya di Jakarta dan Surabaya pada 26 November, tuntut “kembalikan hak Gus Yahya.” Beberapa kiai senior desak Muktamar Luar Biasa (Munas) dini 2026, sementara PBNU resmi larang Gus Yahya pakai gelar “Ketua Umum” untuk cegah perpecahan lebih dalam.