JAKARTA – Jakarta dipilih sebagai salah satu lokasi uji coba vaksin tuberkulosis (TBC) M72, terobosan medis yang didukung Bill & Melinda Gates Foundation. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan kesiapan penuh kota untuk mendukung program ini, dengan keputusan akhir tetap di tangan pemerintah pusat.
Jakarta dan Ambisi Eliminasi TBC Global
Tuberkulosis masih menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia, dengan jumlah kasus mencapai satu juta per tahun, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India. Vaksin M72, yang kini memasuki tahap uji klinis fase 3, diharapkan menjadi solusi revolusioner untuk mencegah TBC paru, terutama pada remaja dan dewasa. Jika berhasil, vaksin ini akan menjadi yang pertama dalam lebih dari satu abad untuk melawan penyakit ini secara efektif.
Pramono Anung menegaskan sikap terbuka Jakarta dalam mendukung proyek ini. “Terserah pemerintah pusat, kalau pemerintah pusat kemudian menetapkan Jakarta sebagai salah satu vaksin ya kita ikut aja,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan komitmen Jakarta untuk berkontribusi pada kemajuan kesehatan global, sekaligus menunjukkan koordinasi erat dengan otoritas nasional.
Mengapa Jakarta Dipilih?
Pilihan Jakarta sebagai lokasi uji coba bukanlah kebetulan. Dengan populasi yang besar dan beragam, serta infrastruktur kesehatan yang memadai, kota ini menjadi tempat ideal untuk menguji efikasi vaksin. Selain itu, tingginya kasus TBC di Indonesia membuat negara ini menjadi prioritas dalam pengembangan vaksin ini. Uji klinis fase 3 ini juga melibatkan lebih dari 2.000 relawan di berbagai negara, termasuk Afrika Selatan, Kenya, Zambia, dan Malawi, dengan pengawasan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut laporan, vaksin M72 telah menunjukkan hasil menjanjikan pada uji coba sebelumnya, dengan efikasi mencapai 50-54 persen dalam mencegah TBC bergejala berat. Keberhasilan uji coba ini diharapkan dapat membawa Indonesia lebih dekat menuju target eliminasi TBC pada 2030.
Kolaborasi Global untuk Kesehatan
Proyek vaksin TBC ini merupakan hasil kerja sama antara Gates Foundation, GlaxoSmithKline (GSK), dan Gates Medical Research Institute (Gates MRI). Indonesia, melalui keterlibatan Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, turut memperkuat jejaring riset global. Selain itu, keterlibatan Biofarma sebagai produsen vaksin nasional membuka peluang untuk produksi vaksin dalam negeri, yang dapat mempercepat akses masyarakat Indonesia ke teknologi kesehatan terbaru.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya uji coba ini, dengan menyatakan, “Vaksin itu sangat dibutuhkan untuk bisa mengurangi penyakit menular.” Ia juga menyoroti potensi vaksin ini untuk masuk ke program vaksinasi nasional secara gratis jika terbukti efektif, yang dapat menyelamatkan ratusan ribu nyawa setiap tahun.
Tantangan dan Harapan
Meski mendapat sambutan positif, uji coba vaksin ini sempat memicu diskusi di media sosial, dengan beberapa pihak mempertanyakan alasan Indonesia menjadi lokasi uji coba. Namun, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa vaksin ini telah melalui evaluasi ilmiah ketat dan dinyatakan aman. “Vaksin ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi, tapi kita belum tahu efikasinya, khasiatnya. Makanya perlu dilakukan uji klinis fase 3,” katanya.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah, serta kolaborasi dengan komunitas ilmiah internasional, Jakarta siap memainkan peran kunci dalam misi global melawan TBC. Keberhasilan uji coba ini tidak hanya akan membawa manfaat bagi Indonesia, tetapi juga dunia, dalam upaya menciptakan masa depan bebas dari ancaman tuberkulosis.
