PADANG – Jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat, menetapkan 10 Zulhijah 1446 Hijriah jatuh pada Kamis, 5 Juni 2025, dan akan melaksanakan Salat Iduladha pada hari tersebut sekitar pukul 08.00 WIB.
“Ya, besok kita akan melaksanakan Salat Iduladha sekitar pukul delapan pagi. Malam ini kita mulai takbiran,” ujar Zahar Malin, Imam Surau Baru di Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, pada Rabu (4/6/2025).
Keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan kalender internal jamaah yang telah ditetapkan sejak tahun sebelumnya.
“Dari perhitungan kami, 10 Zulhijah jatuh pada besok,” jelas Zahar.
Tradisi Tarekat Naqsabandiyah yang Tetap Lestari di Surau Tua
Tarekat Naqsabandiyah merupakan salah satu aliran tasawuf yang masih eksis di tengah masyarakat Minangkabau, terutama di Kota Padang. Meski jamaahnya tersebar di berbagai wilayah, pusat kegiatan ibadah mereka berpusat di Surau Baru, sebuah bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1910.
Surau ini dibangun oleh Syekh Muhammad Thaib, seorang ulama asal Minangkabau yang kembali dari Makkah setelah menimba ilmu agama. Sekembalinya ke tanah air, beliau menjadikan surau ini sebagai sentral dakwah serta penyebaran ajaran Tarekat Naqsabandiyah.
Menurut Zahar, Surau Baru pernah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk belajar agama dan memperdalam ajaran tarekat.
“Sampai sekarang, sebagian ajaran dan tradisi beliau masih kami jalankan, meskipun kini yang aktif hanya golongan tua,” katanya.
Keunikan Surau Baru:
Arsitektur Tradisional dan Tanpa Pengeras Suara
Salah satu daya tarik Surau Baru adalah arsitekturnya yang masih mempertahankan bentuk asli sejak dibangun lebih dari seabad lalu. Bangunan ini berdiri dengan struktur kayu bertonggak, berlantai papan, dan memiliki ruang salat sederhana mencerminkan arsitektur klasik surau khas Minangkabau.
Menariknya, meskipun fungsi surau ini menyerupai masjid, tempat ibadah ini tidak menggunakan pengeras suara atau mikrofon dalam pelaksanaan ibadah, menciptakan suasana yang tenang dan khusyuk.
Kesetiaan pada Kalender Sendiri
Tarekat Naqsabandiyah memang dikenal menggunakan metode hisab tersendiri dalam menentukan waktu-waktu penting dalam kalender Islam, termasuk Hari Raya Iduladha dan Idulfitri. Karena itu, seringkali mereka melaksanakan ibadah lebih awal atau berbeda dari ketetapan pemerintah.