BOGOR – Seorang pelajar SMP tewas dalam tawuran antar pelajar yang pecah di Jalan Raya Parung, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu malam, 4 Juni 2025. Korban diketahui berasal dari Desa Bojong, Kemang.
Menurut Kapolsek Parung, Kompol M. Taufik, bentrokan tersebut terjadi di tengah malam yang seharusnya tenang.
“Tawurannya ada, tadi malam. Iya (satu orang meninggal dunia),” ujar Taufik saat dikonfirmasi pada Kamis (5/6/2025).
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan maraknya kekerasan di kalangan pelajar yang kian mengkhawatirkan.
Kronologi Bentrokan Mematikan
Berdasarkan informasi awal, tawuran ini melibatkan dua kelompok pelajar SMP yang diduga telah merencanakan aksi tersebut. Meski penyebab pasti masih dalam penyelidikan polisi, situasi memanas hingga berujung pada tragedi. Korban, yang merupakan warga setempat, menjadi korban kekerasan yang terjadi di tengah hiruk-pikuk Jalan Raya Parung.
Pihak kepolisian saat ini tengah mendalami motif di balik insiden ini, termasuk kemungkinan adanya provokasi atau rivalitas antar kelompok pelajar.
“Kami masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap dan pelaku yang terlibat,” tambah Taufik.
Dampak dan Respons Masyarakat
Tragedi ini memicu keprihatinan warga Bogor, terutama di Kecamatan Kemang, yang menyerukan tindakan tegas untuk mencegah kasus serupa terulang. Banyak yang mempertanyakan peran sekolah dan orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka, serta efektivitas upaya pencegahan tawuran di kalangan pelajar.
Selain itu, kejadian ini menambah daftar panjang insiden tawuran di wilayah Bogor. Data dari laporan sebelumnya menunjukkan bahwa tawuran pelajar kerap terjadi di berbagai kecamatan, seperti Tanah Sareal dan Sukaraja, dengan beberapa kasus juga berujung pada korban jiwa.
Langkah Kepolisian dan Upaya Pencegahan
Polresta Bogor langsung bergerak cepat dengan menggelar patroli intensif di wilayah rawan tawuran. Pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan sekolah-sekolah setempat untuk memberikan pembinaan kepada pelajar guna mencegah aksi kekerasan serupa.
“Kami imbau para orang tua dan pihak sekolah untuk lebih ketat mengawasi anak-anak mereka, terutama di jam-jam rawan,” tegas Taufik.
Selain itu, polisi tengah menelusuri kemungkinan keterlibatan senjata tajam dalam insiden ini, mengingat banyak kasus tawuran sebelumnya di Bogor melibatkan penggunaan sajam, seperti celurit dan samurai.
Panggilan untuk Solusi Jangka Panjang
Kasus tawuran pelajar yang terus berulang menuntut solusi yang lebih komprehensif. Beberapa pihak menyarankan penguatan program ekstrakurikuler di sekolah untuk menyalurkan energi positif pelajar, serta peran aktif komunitas dalam menciptakan lingkungan yang aman.
“Tawuran bukan sekadar tindakan kriminal, tapi juga cerminan kebutuhan pelajar untuk menunjukkan identitas. Sekolah harus memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang,” ujar seorang pengamat pendidikan.
