JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Israel menuduh Iran meluncurkan kembali serangan misil hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tuduhan ini mengaburkan harapan terhadap meredanya konflik yang telah berlangsung intens selama 12 hari terakhir.
Dalam pernyataan resminya, Israel menyebut bahwa pihaknya terpaksa melancarkan serangan balasan terhadap peluncur misil di Iran barat yang dianggap siap menargetkan wilayahnya.
Di sisi lain, Iran melalui media pemerintah membantah melanggar kesepakatan tersebut dan menyatakan tidak ada serangan dilakukan setelah gencatan senjata mulai berlaku. Perbedaan klaim ini menyoroti rapuhnya kesepakatan yang baru saja dicapai.
Gencatan senjata yang diumumkan pada Selasa dini hari waktu setempat disambut dengan kehati-hatian oleh komunitas internasional.
Presiden Trump bahkan menambahkan pernyataan tegas dalam pengumumannya: “TOLONG JANGAN MELANGGARNYA!”
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketenangan belum sepenuhnya tercapai, terlebih ketika sirene peringatan kembali berbunyi di wilayah utara Israel hanya dua jam setelah pengumuman kesepakatan damai.
Serangan Terus Terjadi Meski Gencatan Senjata Berlaku
Sebelum gencatan senjata diumumkan, Israel mengklaim bahwa Iran telah menembakkan sedikitnya empat misil balistik, salah satunya menghantam gedung apartemen di Beersheba dan menewaskan empat orang.
Militer Israel juga menyatakan telah berhasil menargetkan fasilitas peluncuran misil di wilayah Iran sebagai respons langsung atas eskalasi tersebut.
Meski sempat terjadi ketenangan sekitar pukul 07.30 pagi waktu Israel dan perintah aman dikeluarkan oleh militer, ketegangan kembali mencuat saat sirene bahaya terdengar lagi.
Israel menegaskan, jika Iran terus melanggar kesepakatan, maka “akan ada balasan dengan kekuatan penuh,” sebagaimana tertuang dalam pernyataan militernya.
Sementara itu, Pemerintah Israel baru menyatakan secara resmi kesediaannya terhadap gencatan senjata sekitar pukul 09.00 waktu setempat.
Dalam pernyataannya, Israel mengklaim telah mencapai target-target strategis dalam kampanye militer ke Iran dan menyepakati penghentian serangan dalam koordinasi penuh dengan Presiden Trump.
Momentum Politik dan Dampak Global
Keputusan gencatan senjata ini datang di tengah agenda penting Presiden Trump menghadiri KTT NATO, yang dinilai bisa menjadi panggung diplomatik baginya apabila kesepakatan berhasil bertahan.
Meski begitu, sejumlah pejabat AS dilaporkan terkejut dengan waktu pengumuman tersebut, karena kontak senjata masih terjadi hingga detik-detik terakhir sebelum deklarasi gencatan senjata diumumkan.
Serangan lintas negara yang terjadi sebelumnya juga melibatkan Amerika Serikat.
Titik balik konflik ini terjadi saat AS ikut menyerang tiga situs nuklir Iran, termasuk fasilitas bawah tanah yang sebelumnya tak terjangkau oleh senjata Israel.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, meski sudah terlebih dahulu memberikan peringatan agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Dampak Ekonomi: Pasar Merespons Positif
Berita gencatan senjata langsung menggairahkan pasar global, khususnya di Asia.
Bursa saham Korea Selatan mencatat lonjakan hingga 3 persen, sementara kontrak berjangka S&P 500 naik sekitar 1 persen, menunjukkan optimisme pelaku pasar menjelang pembukaan perdagangan di New York.
Di sisi lain, harga minyak mentah kembali ke tingkat normal sebelum eskalasi konflik dimulai hampir dua minggu lalu.
Klaim Kemenangan dari Dua Arah
Baik Iran maupun Israel secara naratif menyebut gencatan senjata ini sebagai bentuk kemenangan.
Bagi Iran, keberhasilan menyerang situs militer dan pangkalan lawan tanpa menyebabkan korban jiwa menjadi nilai strategis tersendiri.
Sementara Israel mengklaim telah berhasil mencapai tujuan militernya sebelum menyetujui penghentian pertempuran.
Meski begitu, kestabilan kawasan masih dalam tanda tanya besar.
Ketegangan yang kembali meningkat beberapa jam setelah deklarasi gencatan senjata menandakan bahwa situasi di lapangan belum sepenuhnya terkendali.
Dunia internasional pun kini menanti langkah konkret dari kedua negara untuk menurunkan eskalasi secara berkelanjutan.***
Sumber: The New York Times, Selasa (24/6/2025) 16.45 WIB