JAKARTA – Pemerintah tengah menuntaskan tahap akhir penyusunan kurikulum Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan alternatif yang dirancang untuk menjangkau anak-anak dari berbagai latar belakang sosial.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa kurikulum ini digagas bersama oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan tim ahli khusus, dan kini telah mendekati tahap finalisasi.
“Kurikulum yang akan diterapkan ini sudah dirancang oleh kemendikdasmen dengan tim yang sudah dibentuk. Dan kurikulum itu sendiri sudah mendekati final,” ucapnya di Jakarta, Selasa (1/7/2025).
Meski struktur utama kurikulum hampir rampung, Kementerian Sosial menekankan pentingnya menambahkan sejumlah instrumen pendukung, seperti modul pembelajaran dan alat bantu belajar yang dirancang khusus untuk menunjang efektivitas proses pendidikan.
Penyusunan ini juga mempertimbangkan karakteristik unik setiap peserta didik.
Menurut Saifullah Yusuf, keberhasilan implementasi kurikulum sangat bergantung pada pemetaan kebutuhan anak-anak dan kesesuaian materi dengan gaya belajar masing-masing individu.
Karena itu, pendekatan personal menjadi fondasi dalam kurikulum Sekolah Rakyat.
Pemerintah berharap, sistem ini mampu menghadirkan dampak konkret bagi tumbuh kembang anak, baik dari sisi kognitif, emosional, maupun sosial.
Untuk mendukung hal itu, pengembangan modul pembelajaran yang relevan dan mudah dipahami tengah difinalisasi.
Kementerian juga sedang menyusun sistem pemetaan potensi anak sebagai bagian dari strategi pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif sosial yang menyasar anak-anak dari keluarga marginal yang kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal.
Dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan individu, diharapkan Sekolah Rakyat menjadi ruang belajar yang lebih memberdayakan.***