NEW YORK, AS – Zohran Mamdani, kandidat Wali Kota New York dari Partai Demokrat, menegaskan sikap teguhnya menghadapi ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump mengancam akan menangkap dan mendeportasi Mamdani jika ia menghalangi operasi Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) di kota terbesar AS tersebut. Namun, Mamdani justru menjadikan ancaman ini sebagai bahan bakar untuk memperkuat perjuangannya.
“Presiden Amerika Serikat baru saja mengancam akan menangkap saya, mencabut kewarganegaraan, memasukkan saya ke kamp tahanan dan mendeportasi saya,” ujar Mamdani, Kamis (3/7/2025).
Dengan penuh semangat, ia menegaskan, “Saya tak takut. Ancaman ini adalah serangan terhadap demokrasi, dan saya akan menjadi mimpi terburuk bagi mereka yang mencoba meneror kota kita.”
Latar Belakang Kontroversi
Zohran Mamdani, politikus progresif keturunan India kelahiran Uganda, mencuri perhatian setelah memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Wali Kota New York.
Kemenangannya atas mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo, dengan selisih suara signifikan (56% berbanding 44%), menempatkannya sebagai calon kuat dalam pemilihan November 2025. Jika terpilih, Mamdani akan mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama di New York, kota yang dikenal sebagai pusat multikultural dunia.
Namun, kemenangan ini tak luput dari sorotan tajam Trump. Dalam beberapa pernyataan, termasuk di platform Truth Social, Trump menyebut Mamdani sebagai “komunis gila” dan secara keliru mengklaim bahwa Mamdani berada di AS secara ilegal.
“Jika Mamdani mengganggu ICE, dia akan ditangkap,” tegas Trump, seperti dikutip dari CNBC Indonesia. Ia bahkan mengancam akan memotong dana federal untuk New York jika Mamdani tidak “berperilaku baik” sebagai wali kota.
Respons Mamdani: Melawan dengan Prinsip
Mamdani, yang menjadi warga negara AS sejak 2018, menolak tuduhan Trump dan menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan karena pelanggaran hukum, melainkan karena komitmennya melindungi warga New York dari operasi ICE yang dianggapnya meneror komunitas imigran.
“Ini hanyalah awal dari koalisi kami yang terus berkembang untuk menjadikan Kota New York terjangkau,” tulis Mamdani di platform X
Politikus berusia 33 tahun ini juga dikenal vokal dalam isu internasional, terutama dukungannya terhadap Palestina. Ia pernah menyatakan akan menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jika berkunjung ke New York, merujuk pada surat perintah penangkapan ICC terkait tuduhan kejahatan perang.
“Sebagai wali kota, saya akan menangkap Netanyahu jika datang ke New York. Ini adalah kota yang nilainya sejalan dengan hukum internasional,” ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Panasnya Pertarungan Politik
Konflik antara Mamdani dan Trump mencerminkan polarisasi tajam dalam politik AS. Mamdani, yang mengusung agenda progresif seperti menaikkan pajak bagi kaum kaya dan melindungi hak imigran, dianggap sebagai ancaman oleh kubu konservatif. Sementara itu, Trump terus menggunakan narasi “komunis” untuk mendiskreditkan lawan-lawannya, sambil mengancam kebijakan keras seperti pengerahan ICE dan pemotongan anggaran federal.
Menurut laporan Bloomberg Technoz, ancaman Trump terhadap Mamdani juga didukung oleh beberapa politikus Republik, seperti Anggota DPR Andy Ogles, yang meminta pencabutan kewarganegaraan Mamdani dengan tuduhan menyembunyikan “simpati teroris” selama proses naturalisasi. Namun, Mamdani menepis tuduhan ini dan menyebutnya sebagai taktik rasis untuk mengalihkan perhatian dari isu utama.
Dukungan dan Tantangan ke Depan
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan telah mengguncang panggung politik nasional. Survei terbaru menunjukkan ia unggul atas Wali Kota petahana Eric Adams dan kandidat Republik Curtis Sliwa. Dengan kampanye yang berfokus pada kebutuhan pekerja dan keadilan sosial, Mamdani berhasil menarik perhatian generasi muda dan komunitas multikultural di New York.
Namun, tantangan besar masih menanti. Ancaman Trump untuk memotong dana federal senilai lebih dari US\$100 miliar bisa berdampak serius pada perekonomian kota. Selain itu, tuduhan dan serangan personal dari kubu konservatif kemungkinan akan semakin intens menjelang pemilihan November.
Mamdani: Simbol Perlawanan
Bagi banyak pendukungnya, Mamdani bukan sekadar kandidat, melainkan simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. “Partai Demokrat berbicara dengan suara yang jelas, menyampaikan mandat untuk kota yang terjangkau, sebuah politik masa depan, dan seorang pemimpin yang tidak takut untuk melawan balik otoritarianisme yang meningkat,” kata Mamdani, seperti dikutip AFP.