JAKARTA — Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, memberikan klarifikasi terkait tuduhan kelalaian dalam proses evakuasi turis asal Brasil, Juliana Marins, yang jatuh di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB). Syafi’i menegaskan bahwa Basarnas telah melaksanakan tugas kemanusiaan sesuai prosedur sejak menerima informasi kejadian tersebut.
“Saya rasa Basarnas akan menyampaikan sesuai porsi Basarnas. Basarnas melaksanakan tugas kemanusiaan diawali sejak informasi diberikan sampai korban bisa dievakuasi,” ujar Syafi’i saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (7/7/2025).
Syafi’i menanggapi tuduhan kelalaian yang beredar sebagai penilaian yang bersifat relatif. Ia menekankan bahwa yang lebih penting adalah Basarnas telah melaksanakan tugasnya dengan mengikuti ketentuan yang ada. “Menurut saya relatif (lalai atau tidak), itu disampaikan oleh siapa dan ditujukan untuk siapa. Karena yang saya sampaikan bahwa Badan SAR Nasional sesuai tugas utamanya sudah melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan yang ada,” tambahnya.
Juliana Marins, turis asal Brasil, jatuh saat mendaki Gunung Rinjani pada 22 Juni 2025. Insiden tersebut terjadi di area Cemara Nunggal, jalur menuju puncak, sekitar pukul 06.30 WITA. Lokasi tersebut dikenal sangat ekstrem dengan medan berbatu dan lereng curam, ditambah kondisi cuaca berkabut tebal. Sebelumnya, Juliana sempat meminta istirahat karena kelelahan, namun rombongan tetap melanjutkan perjalanan karena jadwal pendakian yang ketat.
Pukul 09.40 WITA, pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menerima laporan insiden tersebut dan segera mengerahkan tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, TNGR, BPBD, serta relawan. Pada Sabtu sore, seorang turis Spanyol yang mengoperasikan drone berhasil merekam gambar Juliana yang masih hidup, terlihat duduk dan bergerak di tanah berabu kelabu, sekitar 300 meter di bawah jalur pendakian. Rekaman tersebut segera menyebar luas di media Brasil, menggugah harapan keluarga dan netizen Brasil, yang berharap Juliana selamat.
Namun, meskipun tim SAR turun hingga 300 meter pada hari itu, mereka tidak dapat menemukan Juliana karena kabut tebal dan medan yang sangat berbahaya. Pada Minggu pagi (22/6), drone menunjukkan bahwa Juliana sudah tidak ada di lokasi awal, yang diduga ia tergelincir lebih jauh ke jurang. Baru pada Senin (23/6), drone thermal mendeteksi Juliana berada di kedalaman 500 meter, namun dalam kondisi tak bergerak. Tim SAR akhirnya berhasil mencapai lokasi pada Selasa (24/6), dan memastikan Juliana telah meninggal dunia.
Meninggalnya Juliana memicu kemarahan netizen Brasil yang menyalahkan lambatnya proses evakuasi di Indonesia. Kemarahan ini memuncak dan diarahkan ke akun Instagram Presiden Prabowo Subianto, yang menjadi sorotan publik di Brasil.
Basarnas, meskipun mendapat kritik, tetap mempertahankan bahwa mereka telah menjalankan tugas kemanusiaan dengan mengikuti prosedur yang berlaku. Proses evakuasi di medan ekstrem seperti Gunung Rinjani memang penuh tantangan, dan pihak berwenang berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dan respons dalam situasi darurat seperti ini.