JAKARTA – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengawali tahun ajaran baru 2025 dengan mengunjungi SMAN 9 Jakarta. Kunjungan ini merupakan bagian dari “Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah,” yang bertujuan mempererat hubungan ayah dan anak serta mengatasi krisis kurangnya peran ayah (fatherless) di Indonesia.
Gerakan ini, yang digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, merupakan salah satu pilar kampanye Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Berlandaskan Surat Edaran Menteri Nomor 7 Tahun 2025, program ini awalnya ditujukan untuk aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemendukbangga/BKKBN. Namun, Menteri Wihaji menegaskan bahwa gerakan ini memiliki potensi besar untuk diadopsi secara nasional sebagai langkah nyata membangun pola pengasuhan yang lebih kolaboratif dan setara antara ayah dan ibu.
Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan
Dalam sambutannya sebagai pembina upacara di SMAN 9 Jakarta, Menteri Wihaji menyoroti fenomena fatherless yang dialami oleh 20,9% anak Indonesia. “Berdasarkan data, 20,9 persen anak Indonesia mengalami fatherless atau kehilangan ayahnya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat memengaruhi pembentukan karakter anak, terutama di kalangan remaja yang kerap merasa “gengsi” berkomunikasi dengan orang tua karena merasa sudah dewasa.
Menteri juga mengkritik dampak penggunaan gawai yang berlebihan. Mengutip survei, ia menyebutkan bahwa rata-rata anak menghabiskan 8,5 jam sehari dengan ponsel, menyebabkan interaksi dengan orang tua semakin minim. Dalam wawancara singkat dengan seorang siswi, ia mendengar keluh kesah:
“Saya jarang ngobrol dengan orang tua saya. Ketika saya pulang, orang tua saya belum pulang. Ketika orang tua saya pulang, saya sudah tidur. Dalam satu minggu saya ngobrol hanya dalam waktu 30 menit,” ungkap siswi tersebut.
“Generasi Stroberi” dan Tantangan Interaksi
Dalam dialog dengan para ayah siswa, Menteri Wihaji menegaskan bahwa gawai kini seolah menjadi “anggota keluarga baru.”
“Anak-anak kita hari ini seperti kehilangan orang tua, ada tapi seperti tidak ada. Hal ini karena ada handphone yang saya sebut dengan keluarga baru,” katanya.
“Jadi, jangan salahkan anak jika mereka tidak menuruti kata kita karena faktanya mereka lebih lama berinteraksi dengan handphone.” tambahnya
Minimnya interaksi antara ayah dan anak, menurut Wihaji, berkontribusi pada munculnya generasi stroberi—generasi muda yang tampak potensial namun rapuh menghadapi tekanan, seperti buah stroberi yang indah di luar tetapi mudah hancur. Untuk mengatasi hal ini, ia mendorong para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak, termasuk melalui momen sederhana seperti mengantar mereka ke sekolah.
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Kunjungan ini juga dihadiri oleh Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sarjoko, MM, yang memaparkan program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, salah satunya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Ini adalah bagian keseharian kita sesungguhnya, baik aktivitas dalam keluarga maupun sekolah yang diawali dengan kegiatan bangun pagi, beribadah, olahraga, makan bergizi sehat, tempat belajar, bermasyarakat, tidur cepat,” ujar Sarjoko.
Ia menegaskan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua. Sarjoko mengingatkan fenomena di mana ayah, ibu, dan anak berada dalam satu ruangan namun sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Mari, perankan peran kita bersama, baik yang di sekolah maupun di rumah,” ajaknya.
Langkah Menuju Generasi Tangguh
“Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” bukan sekadar seremonial, tetapi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia. Dengan melibatkan ayah secara aktif, Kemendukbangga/BKKBN berharap dapat membentuk generasi yang lebih tangguh, berakar kuat pada nilai keluarga, dan mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa rapuh seperti “generasi stroberi.”
Kunjungan Menteri Wihaji ke SMAN 9 Jakarta menjadi langkah awal yang inspiratif. Diharapkan, gerakan ini dapat menggugah kesadaran masyarakat luas untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan, demi masa depan generasi Indonesia yang lebih baik.
