DENPASAR – Dalam upaya membangun ekosistem pariwisata yang lebih tertata, inklusif, dan berkelanjutan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Pemerintah Provinsi Bali menginisiasi penguatan sinergi strategis.
Langkah ini menjadi respons atas beragam tantangan yang kini dihadapi sektor pariwisata di Pulau Dewata, yang masih menjadi magnet utama kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.
Sinergi tersebut dimulai dalam pertemuan resmi antara Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan Gubernur Bali Wayan Koster di Gedung Kertha Saba, Denpasar, Jumat (28/7/2025).
Menteri Widiyanti menegaskan bahwa Bali bukan sekadar destinasi, tetapi jantung dari pariwisata nasional yang perlu penanganan khusus dan terarah agar tetap relevan dan kompetitif di tengah dinamika global.
“Jadi, izinkan kami menaruh perhatian khusus pada Bali,” ujar Menteri Pariwisata dalam kesempatan tersebut.
Menjawab Tantangan Akut Pariwisata Bali
Menurut Menteri Widiyanti, sejumlah isu yang mendesak diantaranya keberadaan vila tanpa izin, ketimpangan pengembangan wilayah pariwisata, serta konversi lahan produktif yang harus dicegah.
Hal ini membutuhkan konsolidasi lintas sektor agar tidak hanya menyasar penertiban, tetapi juga pembenahan sistem yang lebih komprehensif.
“Kami mengapresiasi inisiatif pemerintah provinsi yang tidak hanya berkomitmen menata yang non-resmi, tetapi juga memverifikasi dan mengawasi akomodasi resmi agar tetap akurat dan terkini,” tegas Menteri Widiyanti.
Selain isu legalitas, Bali juga menghadapi tantangan pengelolaan infrastruktur pendukung, seperti kemacetan dan sistem pengolahan sampah yang masih perlu ditingkatkan.
Kawasan Bali Utara dan Bali Barat menjadi titik fokus pengembangan untuk mewujudkan pemerataan dan mengurangi tekanan pariwisata di wilayah selatan.

Pendidikan Wisatawan dan Kampanye Promosi Jadi Prioritas
Tak kalah penting, perilaku wisatawan yang tidak sejalan dengan nilai budaya lokal turut menjadi perhatian serius.
Edukasi melalui kampanye “Dos and Don’ts” tengah disiapkan, bekerja sama dengan KBRI dan maskapai penerbangan.
“Kami akan terus mendorong edukasi wisatawan melalui kolaborasi dengan KBRI dan kanal-kanal lainnya,” kata Menteri Widiyanti dalam pernyataan resminya.
Langkah lain yang dipersiapkan yaitu peluncuran kalender promosi Wonderful Indonesia 2026.
Deputi Pemasaran Ni Made Ayu Marthini menjelaskan bahwa kampanye ini diselaraskan dengan agenda promosi Pemprov Bali agar lebih masif dan konsisten.
“Kami juga sudah berbicara dengan airlines dan kami akan berkoordinasi dengan Kemenhub dan mengimbau seluruh airlines yang terbang ke Bali untuk menayangkan Dos and Don’ts,” ujarnya.
Komitmen Jangka Panjang dan Dukungan Penuh untuk Bali
Gubernur Wayan Koster menyambut baik pendekatan kolaboratif ini.
Ia menilai perhatian Kemenpar terhadap berbagai isu krusial pariwisata sangat dibutuhkan, terutama untuk memastikan pembangunan pariwisata Bali yang adil, tangguh, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta budaya lokal.
“Dan itu memang sangat dibutuhkan. Apa yang dipaparkan Ibu Menteri sangat tepat,” ujar Koster.
Usai bertemu pemerintah daerah, Menteri Pariwisata Widiyanti melanjutkan dialog dengan pelaku industri pariwisata di kawasan Canggu.
Dalam pertemuan yang digelar di The Tugu, para pelaku menyampaikan aspirasi terkait kualitas layanan, keberlanjutan usaha, dan kebutuhan infrastruktur yang lebih adaptif.
Deputi Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar Hariyanto juga hadir, mendampingi proses penjaringan masukan yang akan dirancang sebagai dasar kebijakan lanjutan dalam pengembangan Bali sebagai destinasi wisata unggulan dunia.***