JAKARTA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025/2026 selesai dengan sukses. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan tes literasi dan numerasi untuk siswa SMP dan SMA. Menteri Abdul Mu’ti optimistis tes ini bisa mengatasi masalah rendahnya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung di Indonesia.
Dalam pernyataannya saat menghadiri Hari Anak Nasional di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (20/7/2025), Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pelaksanaan MPLS tahun ini berjalan lancar dan penuh keceriaan.
“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik, anak-anak juga ceria dan ada yang baru dari MPLS tahun ini kan selain pendekatan-pendekatan yang lebih humanis,” ujarnya.
Tes Literasi dan Numerasi: Deteksi Dini untuk Pembelajaran Efektif
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, MPLS 2025 mengintegrasikan asesmen literasi dan numerasi sebagai bagian dari kegiatan pengenalan sekolah.
Tes ini dirancang untuk mengidentifikasi kemampuan dasar siswa dalam membaca, menulis, dan berhitung. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa asesmen ini bukan sekadar ujian formal, melainkan alat diagnostik untuk membantu guru menyesuaikan metode pengajaran.
“Jadi kalau selama ini ada masalah sudah SMP belum bisa baca bahkan SMA belum bisa baca, nah dengan MPLS sekarang di mana salah satu materinya adalah ya semacam diagnostic test begitu untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis dan numerasi atau berhitung,” katanya.
Asesmen ini tidak bertujuan untuk menentukan kelulusan atau peringkat siswa, melainkan memberikan gambaran awal bagi guru untuk merancang pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Dengan pendekatan ini, Kemendikdasmen berharap dapat mengurangi kesenjangan kemampuan siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
MPLS Ramah: Fokus pada Karakter dan Kenyamanan Siswa
Selain tes literasi dan numerasi, MPLS 2025 mengusung konsep “MPLS Ramah” yang menitikberatkan pada penguatan karakter, pengenalan lingkungan sekolah, dan pembentukan suasana belajar yang menyenangkan. Kegiatan ini mencakup pengenalan budaya sekolah, visi-misi, serta nilai-nilai moral untuk mencegah isu sosial seperti perundungan dan kekerasan.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendekatan humanis dalam MPLS menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. “Mudah-mudahan dengan ini kita bisa mengatasi masalah yang selama ini timbul dalam dunia pendidikan kita,” ucapnya, seraya menegaskan harapannya agar kualitas pendidikan di Indonesia terus membaik.
Langkah Strategis untuk Masa Depan Pendidikan
Pelaksanaan asesmen literasi dan numerasi dalam MPLS 2025 menjadi langkah strategis Kemendikdasmen untuk menjawab tantangan pendidikan nasional. Data dari asesmen ini akan menjadi acuan bagi guru dalam menyiapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan tidak ada siswa yang tertinggal.
Dengan pendekatan yang lebih terarah dan ramah, MPLS 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga fondasi kuat untuk membangun generasi yang kompeten dan berkarakter. Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa pemerintah serius menangani krisis literasi dan numerasi yang telah lama menjadi sorotan di dunia pendidikan Indonesia.