Curah hujan yang merata di sejumlah wilayah Riau selama sepekan terakhir membawa angin segar dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di provinsi ini. Dari ratusan titik panas yang sebelumnya terpantau, kini jumlah hotspot turun drastis menjadi hanya empat titik aktif per 26 Juli 2025.
Data ini disampaikan dalam rapat monitoring bersama Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB, yang memuji penurunan signifikan dari 586 titik panas pada 20 Juli menjadi kondisi yang jauh lebih terkendali saat ini.
Turunnya hujan sejak malam hingga pagi hari di berbagai daerah turut mempercepat proses pemadaman. Namun, bukan hanya faktor cuaca yang berperan. Upaya gabungan dari berbagai pihak — mulai dari operasi darat, udara, hingga penggunaan helikopter water bombing — terbukti efektif dalam menekan laju penyebaran api.
Meski tren Karhutla menunjukkan perbaikan, penegakan hukum tetap digencarkan. Kepolisian Daerah Riau melaporkan telah menangani 41 kasus kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun 2025. Sebanyak 51 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, dengan total lahan yang terbakar mencapai 296 hektare.
Langkah tegas ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan dan penindakan hukum terhadap pelaku pembakaran.
Dengan adanya sinergi antarinstansi dan dukungan dari kondisi cuaca yang membaik, harapan pun muncul bahwa tahun ini Riau bisa keluar dari siklus tahunan bencana asap. Namun, semua pihak tetap diingatkan agar waspada dan tidak lengah, mengingat ancaman Karhutla bisa kembali muncul kapan saja.
Caption | Admin: Raihana