SANAA, YAMAN – Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Yaman, Sanaa, pada Minggu (24/8/2025), menargetkan kompleks militer yang menampung istana kepresidenan, depot bahan bakar, dan pembangkit listrik. Aksi ini merupakan respons atas serangan rudal bermuatan bom klaster oleh kelompok Houthi yang menyerang wilayah Israel pada Jumat lalu, yang diklaim sebagai solidaritas terhadap Palestina.
Serangan Israel menyebabkan sedikitnya enam orang tewas dan puluhan lainnya terluka, menurut laporan media lokal dan Associated Press.
Kelompok Houthi, yang didukung Iran, dilaporkan menggunakan bom klaster untuk pertama kalinya sejak konflik dengan Israel meletup pada Oktober 2023.
“Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menyerangnya,” tegas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari pusat komando Angkatan Udara Israel di Tel Aviv.
Netanyahu menegaskan tekad Israel untuk membalas setiap ancaman. Militer Israel tengah menyelidiki kegagalan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat rudal Houthi yang membawa amunisi terlarang tersebut, yang dilarang oleh lebih dari 100 negara.
Houthi berjanji membalas serangan Israel ini. “Kami akan melakukan pembalasan,” kata Biro Politik Houthi dalam pernyataan resmi.
Kementerian Luar Negeri Iran dan Hamas turut mengecam aksi Israel, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Arab dan hukum internasional.”
Serangan udara Israel ini juga menarik perhatian dunia, terutama setelah Menteri Pertahanan Israel Katz mengklaim serangan tersebut “menghancurkan istana presiden Houthi di Yaman.” Namun, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Yaman terkait klaim ini. Di tengah eskalasi konflik, Houthi menegaskan komitmen mereka untuk terus menyerang Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza, “berapa pun pengorbanannya.”
Konflik ini menambah ketegangan di Timur Tengah, dengan Yaman menjadi salah satu medan pertempuran baru dalam perseteruan Israel dan kelompok-kelompok yang didukung Iran. Situasi ini juga memicu kekhawatiran atas dampak kemanusiaan, terutama di Sanaa, yang telah lama menderita akibat perang dan blokade.