JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan bahwa pemerintah perlu memberi perhatian serius terhadap dua sektor strategis yang dinilai krusial bagi pertumbuhan ekonomi, yakni pariwisata berbasis digital dan industri manufaktur.
Dalam rapat kerja bersama Menteri Perindustrian serta Menteri Pariwisata di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (3/9), Novita menyoroti lemahnya transformasi digital di sektor pariwisata Indonesia.
Ia menyebutkan bahwa negara lain sudah lebih maju dengan penggunaan platform berteknologi Artificial Intelligence (AI) untuk promosi wisata, sementara Indonesia belum memiliki strategi menyeluruh.
“Digitalisasi pariwisata kita masih tertinggal jauh. Negara lain sudah memanfaatkan platform dengan fitur Artificial Intelligence (AI) untuk promosi dan manajemen wisata, sementara kita belum memiliki rencana terperinci,” kata Novita.
Menurutnya, tanpa langkah nyata, pariwisata dan manufaktur berisiko kehilangan momentum dalam memberikan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Sorotan Pariwisata: Desa Wisata Masih Kalah Pamor
Novita mengkritisi rendahnya daya tarik desa wisata di Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga. Ia mencontohkan Chiang Mai, Thailand, yang sukses menjadikan desa wisata sebagai tulang punggung ekonomi lokal.
Padahal, konsep serupa di Indonesia berpotensi besar mendongkrak perekonomian masyarakat.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah segera membangun platform digital terintegrasi yang mampu memperkenalkan destinasi lokal dengan dukungan teknologi AI, sehingga dapat bersaing di pasar internasional.
Tantangan Industri Manufaktur: Regulasi dan Infrastruktur
Pada sisi manufaktur, Novita menilai arah kebijakan masih kabur, laporan program cenderung asal-asalan, serta hambatan logistik dan infrastruktur yang menghambat perkembangan industri.
“Industri kecil dan menengah kita sulit berkembang jika regulasi sering berubah dan produk impor ilegal dibiarkan membanjiri pasar. Negara harus hadir dengan insentif nyata bagi industri yang menggunakan bahan baku lokal,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kehadiran regulasi yang konsisten serta dukungan insentif agar pelaku usaha lokal tidak tergerus oleh produk luar negeri.
Pentingnya Koordinasi Antar-Kementerian
Novita juga menyoroti persoalan koordinasi antar kementerian dan lembaga. Menurutnya, banyak program tumpang tindih yang justru menghambat akselerasi pembangunan sektor manufaktur.
“Identifikasi dan penyelesaian masalah program antar kementerian dan lembaga sangat mendesak. Kementerian Perindustrian harus diberi ruang lebih besar agar bisa fokus mendukung pertumbuhan industri manufaktur yang sehat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, tanpa integrasi lintas sektor, Indonesia akan kesulitan membangun industri manufaktur yang berdaya saing.
Novita menutup dengan penegasan bahwa pariwisata digital yang maju dan industri manufaktur yang tangguh merupakan fondasi penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah persaingan global.***