RABAT – Raja Maroko Mohammed VI memberikan pengampunan kepada 681 narapidana dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 5 September 2025.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Kehakiman Maroko, seperti dikutip Morocco World News, pengampunan ini mencakup narapidana yang ditahan serta mereka yang bebas dengan jaminan namun masih menunggu sidang pengadilan. Dari total penerima grasi, sebanyak 488 narapidana mendapatkan keringanan, dengan rincian 12 orang dibebaskan sepenuhnya dari sisa masa hukuman, sementara 476 lainnya mendapat pengurangan masa tahanan.
“Penerima pengampunan bagi napi yang ditahan mencakup 488 orang, yang terbagi menjadi 12 orang yang menerima pengampunan selama sisa masa hukuman penjara mereka dan 476 napi yang masa hukuman penjara atau kurungannya dikurangi,” demikian bunyi pernyataan kementerian.
Selain pengampunan, Raja Mohammed VI juga memberikan penghargaan kepada para hafiz Al-Qur’an yang telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam menghafal dan memahami kitab suci.
Upacara penghargaan ini menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi yang sarat makna, mengingatkan umat Islam akan pentingnya meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Maulid Nabi di Maroko
Perayaan Maulid Nabi di Maroko tidak hanya sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan. Masyarakat Maroko memadati masjid untuk membaca sirah nabawiyah dan melantunkan shalawat.
Tradisi ini juga diwarnai dengan kegiatan keluarga, seperti membaca Al-Qur’an bersama, membeli pakaian baru untuk anak-anak, dan menyiapkan hidangan khas seperti couscous serta manisan tradisional. Kota Meknes, misalnya, dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Maulid Nabi yang paling meriah di Maroko.
Makna Pengampunan Kerajaan
Pengampunan kerajaan ini bukan kali pertama dilakukan. Pada tahun-tahun sebelumnya, Raja Mohammed VI juga memberikan grasi kepada ratusan narapidana saat peringatan Maulid Nabi. Pada 2022, misalnya, 672 terpidana mendapat pengampunan, termasuk beberapa yang terkait kasus ekstremisme setelah menunjukkan perubahan ideologi.
Tradisi ini mencerminkan komitmen kerajaan untuk mempromosikan rehabilitasi dan reintegrasi sosial, sejalan dengan nilai-nilai rahmat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Dengan pengampunan ini, Maroko kembali menegaskan posisinya sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan sosial dalam merayakan momen suci Maulid Nabi.
Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi spiritual, tetapi juga wujud nyata dari kasih sayang dan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat.