JAKARTA – Nepal resmi melantik Sushila Karki sebagai Perdana Menteri (PM) sementara pada Jumat (12/9/2025), menggantikan Sharma Oli yang mundur usai gelombang protes besar-besaran.
Sosok berusia 73 tahun itu bukan orang baru di panggung hukum dan politik Nepal, karena ia pernah mencetak sejarah sebagai Ketua Mahkamah Agung perempuan pertama di negara Himalaya tersebut.
Pengangkatan Karki dilakukan di tengah suasana mencekam setelah kerusuhan meluas sejak awal pekan ini.
Kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan media sosial menjadi pemicu kemarahan publik, yang kemudian melebar menjadi aksi protes atas korupsi pejabat, ketidakadilan ekonomi, dan kegagalan pemerintahan.
Hingga Jumat, jumlah korban tewas akibat bentrokan mencapai 51 orang, mencakup warga sipil, aparat, hingga tahanan.
Meski situasi mulai terkendali dengan patroli militer di Kathmandu, sisa-sisa kerusuhan masih tampak di jalanan.
Generasi muda, terutama kalangan remaja dan mahasiswa, menjadi motor gerakan perlawanan.
Kelompok yang menamakan diri Generasi Z Nepal itu menyatakan dukungan penuh terhadap Sushila Karki sebagai figur transisi yang dipercaya mampu membawa perubahan.
Jejak Panjang Sushila Karki
Dilansir The New York Times, Sushila Karki dikenal publik bukan hanya karena memimpin Mahkamah Agung, tetapi juga karena ketegasannya menantang praktik korupsi dan melawan intervensi politik.
Pada masa jabatannya, ia pernah menghadapi upaya pemakzulan dari dua partai besar setelah membatalkan penunjukan Inspektur Jenderal Polisi yang dianggap bermasalah. Tekanan itu gagal setelah publik melakukan pembelaan terbuka.
Karki juga sempat mengeluarkan aturan baru agar para hakim menyerahkan dokumen akademik mereka, demi mencegah manipulasi usia pensiun yang ditetapkan 65 tahun.
Keberaniannya membuat banyak kalangan menilainya sebagai simbol perlawanan terhadap budaya nepotisme di peradilan Nepal.
Selain itu, Karki aktif mengampanyekan hak-hak perempuan dan menjadi teladan bagi generasi pengacara serta hakim muda di Nepal.
Langkah progresifnya membuat dirinya dihormati, meski kerap bersinggungan dengan elit politik tradisional.
Dukungan Generasi Muda
“Sebagai seseorang yang selalu ingin melihat seorang pemimpin perempuan memimpin negara, ini sungguh menggembirakan,” ujar Prashamsa Subedi, mahasiswa hukum berusia 23 tahun di Kathmandu yang ikut mengorganisir protes.
Karki mengakui bahwa keputusannya menerima jabatan perdana menteri sementara lahir dari desakan publik, terutama dari Generasi Z.
“Saya akan mengambil posisi ini karena mereka memintanya,” katanya dalam wawancara dengan sebuah saluran berita India.
Menurut Sunil Bahadur Thapa, penasihat presiden yang mengumumkan pengangkatannya, Karki akan membentuk kabinet sementara dan menyiapkan pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung dalam enam hingga delapan bulan ke depan.
Bagi banyak warga Nepal, hadirnya Karki di pucuk kepemimpinan memberi harapan baru di tengah ketidakpastian politik.
Harapan itu terutama datang dari generasi muda yang mendambakan keadilan, transparansi, dan pemerintahan bersih di masa depan.***
