JAKARTA – Setiap tanggal 15 September, dunia mencatat peristiwa-peristiwa yang mengguncang sejarah, dari kehilangan tokoh spiritual hingga momen penting dalam ilmu pengetahuan dan politik global.
Di Indonesia, hari ini identik dengan duka mendalam atas wafatnya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa pada 2013, ulama karismatik yang mengubah wajah dakwah modern dengan pendekatan cinta dan toleransi.
Namun, di balik kisah beliau, 15 September juga menjadi panggung peristiwa global seperti kelahiran ilmuwan legendaris Al-Biruni dan manuver politik kontroversial Benito Mussolini.
Habib Munzir Al-Musawa, Cahaya Dakwah di Tengah Tantangan Urban
Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, pendiri Majelis Rasulullah SAW, wafat pada 15 September 2013 di Jakarta akibat komplikasi asma dan ensefalitis di usia 40 tahun. Kepergiannya di tengah suasana pengajian mengejutkan ribuan jamaah, namun warisannya terus hidup, menginspirasi jutaan orang untuk menjalani Islam yang damai dan inklusif.
Lahir di Cipanas, Cianjur, pada 23 Februari 1973, Habib Munzir adalah keturunan sayyid dari garis Ba’alawi, yang bersambung hingga Nabi Muhammad SAW melalui Hussein bin Ali. Anak keempat dari lima bersaudara, ia dibesarkan dalam keluarga sederhana oleh ayahnya, Al-Habib Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa, seorang jurnalis ternama yang pernah berkarier di Harian Berita Yudha dan Berita Buana. Meski memiliki latar belakang jurnalistik internasional, Al-Habib Fuad memilih hidup sederhana di Cipanas untuk menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya.
Pendidikan Habib Munzir dimulai dari SMA, dilanjutkan dengan studi syariah di Ma’had As-Saqafah, Jakarta Selatan, dan bahasa Arab di LPBA Assalafy.
Pada 1994, ia memperdalam ilmu agama di Dar al-Mustafa, Tarim, Yaman, di bawah bimbingan Habib Umar bin Hafiz. Pengalaman ini membentuk visinya untuk mendirikan Majelis Rasulullah SAW pada awal 2000-an, sebuah wadah dakwah yang menargetkan kaum muda urban agar terhindar dari narkoba, kekerasan, dan anarki. “Islam adalah agama damai dan penuh cinta,” begitu pesan yang selalu ia tekankan.
Salah satu momen bersejarah adalah pertemuannya dengan Duta Besar Amerika Serikat Scot Marciel pada 9 Januari 2013.
Dalam diskusi tersebut, Habib Munzir menegaskan pentingnya toleransi beragama dan dialog antaragama, menunjukkan bahwa dakwahnya relevan di ranah global.
Ia juga dikenal karena ramalan spiritualnya, di mana dalam mimpi beliau melihat Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ia akan wafat di usia 40 tahun—sebuah prediksi yang terbukti benar.
Kini, lebih dari satu dekade setelah kepergiannya, Majelis Rasulullah tetap menjadi mercusuar spiritual. Haul tahunan, seperti peringatan ke-10 pada 28–29 Mei 2023 yang dihadiri ribuan jamaah dengan parade 1.000 hadrah, menjadi bukti betapa kuat pengaruh Habib Munzir.
Ziarah akbar ke makamnya di Pemakaman Habib Kuncung, Rawajati, Jakarta Selatan, terus menjadi agenda tahunan yang dinanti.
15 September dalam Lensa Sejarah Global
Selain kehilangan Habib Munzir, tanggal 15 September juga menjadi saksi peristiwa-peristiwa yang membentuk peradaban dunia:
Kelahiran Al-Biruni (973 M)
Ilmuwan Persia Abu Rayhan Al-Biruni lahir di Khawarazmi (kini Turkmenistan). Dikenal sebagai pelopor dalam matematika, astronomi, geografi, dan farmasi, Al-Biruni meletakkan fondasi ilmu pengetahuan modern di era keemasan Islam. Warisannya tetap relevan, mengingatkan kita akan pentingnya sains dalam peradaban.
Mussolini dan Pemerintahan Fasis (1943)
Pada 15 September 1943, Benito Mussolini membentuk pemerintahan fasis baru di Italia untuk menyaingi Nazi Jerman. Setelah kehilangan kekuasaan pada Juli 1943 dan ditangkap, Mussolini berupaya bangkit sebelum akhirnya dieksekusi pada 1945. Peristiwa ini menjadi pengingat kelam tentang bahaya ideologi otoriter.
Tanggal 15 September bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cerminan bagaimana perjuangan individu dan peristiwa global membentuk dunia. Dari dakwah penuh cinta Habib Munzir hingga kontribusi intelektual Al-Biruni dan pelajaran dari kegagalan Mussolini, hari ini mengajak kita merenungkan nilai toleransi, ilmu pengetahuan, dan perdamaian.