JAKARTA – Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi) mengambil peran strategis dalam mendorong literasi publik soal zakat dan wakaf melalui acara Zakat Wakaf Funwalk yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Jakarta, Ahad pagi ini. Ribuan peserta meramaikan kegiatan bertema *Blissful Mawlid ini, yang juga menjadi momentum memperkenalkan potensi ekonomi Islam kepada masyarakat luas.
Acara yang digelar bersama Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) RI ini melibatkan 1.400 peserta, dengan Forjukafi menjadi motor penggerak dalam kampanye literasi zakat dan wakaf. Lewat partisipasinya, Forjukafi menegaskan pentingnya peran media dan jurnalis dalam membangun kesadaran publik terhadap dua instrumen ekonomi syariah yang terbukti berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan.
“Bagi Forjukafi, penting mengambil peran dalam meningkatkan literasi masyarakat terhadap wakaf dan zakat, karena besarnya dampak kebaikan dari wakaf dan zakat seiring dengan tingginya literasi wakaf dan zakat,” ujar Wakil Ketua Umum Forjukafi, Idy Muzayyad, saat ditemui di lokasi kegiatan.
Idy menambahkan, peran jurnalis tidak sekadar meliput, tapi juga menjadi bagian dari gerakan edukatif dan advokatif agar potensi zakat dan wakaf yang saat ini mencapai ratusan triliun rupiah bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menguatkan pesan tersebut dengan menyebut bahwa potensi zakat nasional mencapai Rp 220 triliun per tahun, namun baru sekitar Rp 41 triliun yang berhasil dikumpulkan. Sementara wakaf bahkan memiliki potensi yang lebih besar, terutama jika dikelola secara produktif sebagaimana di negara-negara maju.
“Kalau zakat ini aktif, wakaf ini aktif, kita hanya butuh Rp 20 triliun untuk membebaskan kemiskinan mutlak. Apalagi kalau zakat dan wakaf sudah berdaya, maka tidak akan ada lagi orang miskin di Indonesia,” tegas Menag Nasaruddin.
Forjukafi menilai bahwa peran strategis jurnalis dalam menyebarkan narasi zakat dan wakaf sangat krusial. Melalui pemberitaan yang konsisten dan mendalam, masyarakat akan semakin memahami bahwa zakat dan wakaf bukan hanya ibadah spiritual, tapi juga alat pemberdayaan sosial-ekonomi yang konkret.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengapresiasi keterlibatan Forjukafi dalam mengangkat isu-isu strategis zakat dan wakaf di ruang publik.
“Zakat harus terus digelorakan, harus terus dikampanyekan, dan peran jurnalis dalam menyuarakan ini sangat vital agar pengumpulan dan distribusi zakat bisa makin memberikan dampak nyata,” kata Abu.
Lebih lanjut, Forjukafi juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memajukan zakat dan wakaf, termasuk untuk sektor pendidikan. Wakaf disebut dapat menjadi solusi utama dalam pembiayaan infrastruktur madrasah dan lembaga keagamaan lainnya, sebagaimana disampaikan Kemenag.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono, menyebut bahwa *Zakat Wakaf Funwalk* merupakan langkah kreatif untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang zakat dan wakaf dalam format yang lebih inklusif dan menyenangkan. Menurutnya, acara ini bukan hanya bentuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga ajang edukasi yang dikemas ringan namun bermakna.