JAKARTA – PT Rekayasa Industri (Rekind), perusahaan EPC (Engineering, Procurement, & Construction) Industrial Process milik bangsa, telah menorehkan kiprah strategisnya, membangun lebih dari 40 persen Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di tanah air dengan total kapasitas terpasang mencapai 1005,4 Megawatt (MW) atau 1 Gigawatt (GW).
Dari total kapasitas terpasang 2.744 MW PLTP yang saat ini berdiri di Indonesia, hampir separuhnya lahir dari keterlibatan tangan Rekind. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa Indonesia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri dalam industri energi hijau. “Apa yang telah dilakukan Rekind merupakan bukti nyata karya terbaik anak-anak bangsa,” tegas Hery Nugraha, Geothermal Specialist Rekind, saat menjadi pembicara dalam Sharing Moment di Booth Timas – Rekind pada gelaran The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 di Jakarta Convention Center, (17–19/9/2025).
Di hadapan para pelaku industri dan akademisi, Hery menjelaskan, kiprah Rekind di sektor panas bumi menempatkannya sebagai pemain utama dalam industri strategis yang sangat menentukan arah ketahanan energi nasional. Dengan kontribusi signifikan itu, Rekind bukan hanya membangun pembangkit, tetapi juga menyalakan harapan akan swasembada energi yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hery menambahkan, saat ini Rekind berkolaborasi dengan PT Timas Suplindo dalam proyek PLTP Salak 7 di Sukabumi, Jawa Barat milik Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd.. Proyek ini menjadi simbol kolaborasi strategis dalam mempercepat transisi energi. Rekind dan Timas tidak hanya dituntut menghadirkan pembangkit baru yang efisien, tetapi juga menjaga agar pembangunan berlangsung aman, selamat, dan tidak mengganggu operasional unit yang telah ada.
Menaklukkan Tantangan Rantau Dedap
Perjalanan Rekind dalam industri panas bumi sarat dengan cerita tentang kerja keras dan inovasi. Salah satunya ketika perusahaan ini menuntaskan pembangunan PLTP Rantau Dedap berkapasitas 98,4 MW di Muara Enim, Sumatra Selatan, milik Supreme Energy. Proyek ini dikenal luas sebagai PLTP tersulit di Indonesia.
Lokasinya berada di kawasan Hutan Bukit Jambul pada ketinggian 2.560 meter di atas permukaan laut. Sumber panas bumi terletak di Bukit Besar dan Anak Bukit Besar, yang berasal dari intrusi batuan beku di zona rekahan kaldera raksasa. Infrastruktur penunjangnya dibangun di atas lahan seluas tujuh hektar, dengan akses jalan terjal, curah hujan hampir setiap hari, suhu dingin menusuk hingga 10 derajat celcius, serta ancaman binatang buas yang selalu mengintai.
Menurut Syarief Hidayat Moo, SVP Project Management Rekind, Proyek PLTP Rantau Dedap ini juga menjadi tantangan bagi kemampuan manajemen proyek EPC para engineer Rekind. “Pembangunan infrastruktur di Rantau Dedap melibatkan hampir seratus unit alat berat. Tantangan datang silih berganti, mulai dari cuaca ekstrem, perubahan kontur tanah, hingga risiko keselamatan. Namun Rekind mampu menghadapinya dengan perencanaan matang dan kerja terukur,” jelas Syarief.
Di proyek Rantau Dedap pula Rekind memperkenalkan terobosan baru di dunia kelistrikan tanah air. Satu di antaranya, dalam pengerjaan switchyard bertegangan 150 kV, Rekind menerapkan teknologi Container Gas Insulated Switchyard (GIS). Teknologi ini mampu mentransformasi gardu induk listrik konvensional menjadi digital, dan baru pertama kali digunakan di Indonesia. “Inovasi ini menunjukkan bahwa Rekind tidak hanya bekerja, tetapi juga melahirkan lompatan teknologi. Kami ingin membuktikan, anak bangsa sanggup bersaing di panggung global,” tandas Syarief.
Kehadiran Rekind di IIGCE 2025 bukan sekadar menegaskan reputasi, tetapi juga menunjukkan arah masa depan energi Indonesia. Dengan dominasi di proyek PLTP, Rekind menjadi pilar penting dalam perjalanan bangsa menuju swasembada energi. Rekind berdiri sebagai saksi sekaligus pelaku, menyalakan cahaya dari perut bumi untuk menerangi masa depan negeri.