JAKARTA – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengambil langkah serius terkait insiden keracunan makanan yang melibatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut.
Ia menyatakan akan memanggil pihak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membahas kasus ini secara mendalam, memastikan keselamatan siswa di masa mendatang.
Kejadian ini menimpa 657 pelajar dari tingkat SD hingga SMA setelah menyantap menu MBG yang disediakan.
Akibat insiden tersebut, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dioperasikan Yayasan Al Bayyinah 2 ditutup sementara untuk pemeriksaan keamanan pangan.
Kasus ini menimbulkan kekhawatiran luas tentang standar pengelolaan makanan di program MBG.
Dedi menegaskan, keputusan menghentikan sementara atau moratorium program MBG di Jawa Barat belum ditetapkan.
“Minggu depan saya mengundang kepala MBG membidangi di wilayah Jawa Barat untuk dilakukan evaluasi secara paripurna. Sehingga berbagai problem yang terjadi, seperti keracunan siswa tidak terulang lagi,” kata Gubernur, Selasa (23/9/2025).
Pertemuan ini akan menjadi ajang peninjauan menyeluruh agar semua celah potensi keracunan bisa diantisipasi.
Selain evaluasi, Dedi juga akan membahas kemungkinan sanksi, termasuk penutupan dapur MBG atau SPPG yang terbukti atau dicurigai menyalurkan makanan tidak layak konsumsi.
“Nanti akan saya tanyakan langsung. Apakah Dapur MBG atau SPPG yang menimbulkan keracunan akan meneruskan atau dievaluasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Badan Gizi Nasional merespons insiden ini dengan membentuk Tim Investigasi Khusus. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan, “Kami akan rapat untuk membuat tim investigasi ini. Jadi kami enggak omon-omon,” sebagai upaya memastikan kasus keracunan MBG ditangani secara profesional dan transparan.***