OTTAWA, KANADA – Presiden Prabowo Subianto mengungkap kisah di balik persiapan intensifnya menghadapi pertemuan bilateral dengan Kanada.
Ia harus begadang semalaman untuk mempelajari ribuan halaman dokumen perjanjian ekonomi, yang akhirnya membuahkan kesepakatan strategis di sektor perdagangan, pertahanan, dan koneksi bisnis.
Peristiwa ini menjadi sorotan utama agenda diplomatik Indonesia di Parliament Hill, Ottawa, pada Kamis (25/9/2025).
Kunjungan Presiden Prabowo ke Kanada bukan sekadar seremoni formal, melainkan langkah konkret untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Bertemu langsung dengan Perdana Menteri Mark Carney di West Block, Parliament Hill, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Dokumen krusial ini, yang mencakup 9.000 halaman detail teknis, menjadi kunci utama kesepakatan tersebut.
Menurut penjelasan Presiden Prabowo, proses persiapan ini menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa.
“Kami mempelajari 9 ribu halaman dokumen perjanjian, ya itu benar, kami begadang semalaman. Tapi bagaimanapun, kami ada di sini untuk menyaksikan dan menandatangani perjanjian besar ini. Jadi saya sangat bangga, saya sangat beruntung menjadi Presiden Indonesia yang membawa ini kembali ke Indonesia,” ujarnya dengan penuh semangat saat berbagi cerita di sela-sela acara.
ICA-CEPA, yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia dan Menteri Perdagangan Internasional Kanada, menandai tonggak bersejarah dalam hubungan bilateral kedua negara.
Kesepakatan ini tidak hanya membuka pintu akses pasar baru untuk ekspor unggulan Indonesia seperti komoditas pertanian, tekstil, dan produk olahan, tetapi juga mendorong investasi bersama di bidang pertahanan dan teknologi.
Selain itu, inisiatif koneksi antar pelaku usaha diharapkan menciptakan jaringan kolaborasi yang lebih luas, mendukung target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hingga 8 persen di era kepemimpinan Prabowo.
Secara lebih luas, perjanjian ini memperkuat komitmen Indonesia dan Kanada untuk kerja sama strategis yang saling menguntungkan.
Presiden Prabowo menekankan nilai ganda dari ICA-CEPA, yakni manfaat ekonomi melalui peningkatan perdagangan bilateral yang diproyeksikan mencapai miliaran dolar AS, serta nilai politik yang mempererat ikatan diplomatik di kawasan Indo-Pasifik.
“Ini momentum bersejarah,” tambahnya, menyoroti bagaimana kesepakatan ini dapat menjadi model bagi negara-negara berkembang lainnya.
Kunjungan ini juga menampilkan agenda sampingan yang tak kalah penting, termasuk diskusi tentang isu global seperti perubahan iklim dan keamanan maritim. Dengan begadang demi detail perjanjian, Presiden Prabowo menunjukkan dedikasi tinggi terhadap kepentingan nasional, yang kini membawa Indonesia lebih dekat dengan mitra utama di Amerika Utara.
Perkembangan ICA-CEPA ini dipantau ketat oleh pelaku usaha Indonesia, yang melihat peluang ekspansi pasar Kanada sebagai katalisator diversifikasi ekonomi pasca-pandemi.