JATIM – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberikan sinyal positif atas pengusulan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. Ia menegaskan perjuangan aktivis buruh asal Nganjuk itu layak diakui secara nasional karena dampaknya yang besar dalam meningkatkan kesadaran sosial masyarakat Indonesia.
Seminar bertema “Marsinah: Perjuangan, Kemanusiaan, dan Pengakuan Negara” digelar di Front One Ratu Hotel, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Jumat (10/10/2025). Acara ini menjadi bagian krusial dari proses uji publik, salah satu syarat utama dalam pengajuan gelar Pahlawan Nasional menurut mekanisme Kementerian Sosial.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, serta keluarga almarhumah Marsinah yang turut menyaksikan diskusi mendalam tentang warisan perjuangannya.
Marsinah, gadis muda asal Desa Nglundo, Nganjuk, lahir sebagai buruh pabrik biasa di era 1990-an. Namun, keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak pekerja selama gelombang pemogokan buruh di kawasan industri Porong, Sidoarjo, pada 1993, membuat namanya abadi.
Tragisnya, Marsinah ditemukan tewas dalam kondisi mencurigakan hanya tiga hari setelah memimpin aksi unjuk rasa, memicu sorotan nasional terhadap isu kekerasan terhadap buruh. Kasus ini tidak hanya menggugat sistem industri saat itu, tapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial yang masih relevan hingga kini.
Usulan pengakuan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional telah bergulir sejak tingkat daerah, didorong oleh masyarakat Nganjuk dan berbagai kalangan aktivis. Puncaknya, dukungan langsung datang dari Presiden Prabowo Subianto yang menyampaikannya saat pidato peringatan Hari Buruh 2025 di Jakarta, 1 Mei lalu. “Ini momen tepat untuk menghormati para pejuang hak buruh seperti Marsinah, yang perjuangannya menjadi fondasi demokrasi kita,” ujar Presiden saat itu, menurut catatan resmi acara.
Sebagai keynote speaker, Gus Ipul membuka seminar dengan penjelasan panjang lebar tentang urgensi pengakuan ini. Ia menekankan bahwa prosesnya harus didasari kajian mendalam agar layak diajukan ke Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Kepahlawanan Kementerian Sosial. “Hari ini kita bersama tokoh-tokoh Kabupaten Nganjuk ya, dengan Bapak Wabup, dengan berbagai kalangan, kita seminar untuk memahami lebih jauh perjuangan Marsinah. Nah, ini ada usulan banyak sekali dari masyarakat agar Marsinah bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,” kata Gus Ipul di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Gus Ipul juga menggambarkan sosok Marsinah sebagai inspirasi bagi generasi muda. “Marsinah bukan pejabat, bukan tokoh besar, bukan pemimpin partai atau pengusaha berpengaruh. Ia hanya seorang buruh, gadis muda dari Desa Nglundo, Nganjuk tapi keberaniannya mengguncang nurani kita hingga hari ini,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah dari audiens. Menurut Mensos, pengakuan ini bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan komitmen negara untuk melindungi hak-hak pekerja dan mencegah kasus serupa di masa depan.
Seminar ini diikuti diskusi panel yang melibatkan pakar sejarah, aktivis buruh, dan perwakilan keluarga Marsinah. Mereka sepakat bahwa warisan Marsinah telah memengaruhi reformasi ketenagakerjaan pasca-1998, termasuk pembentukan undang-undang yang lebih pro-buruh. “Kami bangga melihat usulan ini maju. Marsinah adalah pahlawan bagi kami semua,” kata salah satu anggota keluarga yang enggan disebut namanya, mewakili suara komunitas lokal.
Dengan dukungan pemerintah pusat, proses pengusulan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional diprediksi akan mempercepat tahap verifikasi. Jika lolos, nama Marsinah akan bergabung dengan daftar pahlawan yang dihormati setiap 10 November, Hari Pahlawan. Acara ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan hak buruh tetap aktual di tengah tantangan ekonomi digital saat ini.