JAKARTA – Setahun setelah merayakan kemenangan ganda di Grand Prix Austin, Ferrari kini berada dalam pusaran krisis performa yang tak bisa disangkal. Pada 2024, Charles Leclerc dan Carlos Sainz membawa pulang hasil gemilang yang menjaga asa Ferrari bersaing hingga Abu Dhabi, hanya terpaut 14 poin dari McLaren dalam klasemen konstruktor. Namun, dalam waktu 12 bulan, situasi berubah drastis.
Musim 2025 menyaksikan Ferrari tergelincir jauh dari persaingan utama. McLaren kini unggul dengan selisih mencengangkan, 352 poin di atas tim asal Maranello. Bahkan Mercedes, yang sempat tertatih-tatih, telah menyalip Ferrari dan menduduki posisi kedua konstruktor.
Retak Internal dan Evaluasi Organisasi
Krisis Ferrari mencapai titik terang setelah hasil buruk di GP Singapura, yang memperjelas adanya celah mendasar dalam sistem kerja internal tim. Meski tak ada rencana perombakan besar-besaran dalam waktu dekat, tekanan terhadap struktur organisasi—khususnya hubungan antara divisi pabrik dan tim lintasan—semakin mengemuka.
Salah satu sosok yang disorot adalah Matteo Togninalli, Kepala Teknik Lintasan. Meski dikenal temperamental, “Pluto”, julukannya di dalam tim, tetap dianggap sebagai teknisi berpengalaman dengan kapasitas tinggi. Sumber internal menyebut bahwa meskipun ide-idenya kerap memicu perdebatan, loyalitas dan dedikasinya pada Ferrari tak perlu diragukan.
Strategi Bertahan dan Harapan pada 2026
Ferrari, yang juga terdampak secara finansial usai Hari Pasar Modal di mana proyeksi pertumbuhan jangka menengah dinilai melambat, memilih merespons tekanan publik dengan keheningan. Tidak ada gebrakan dari ketua John Elkann, yang dinilai enggan mengambil langkah ekstrem dalam kondisi tim yang tengah terpuruk.
Kini harapan ditumpukan pada proyek ambisius mobil Ferrari 678, yang sedang dikembangkan untuk menghadapi regulasi baru Formula 1 pada 2026. Prinsipal tim Fred Vasseur akan diberi ruang untuk membuktikan kemampuan stafnya dalam merespons era baru olahraga ini, yang menjanjikan ‘reset’ teknis dan peluang membalik peta kekuatan.
Menurut sumber dekat tim, masalah yang dihadapi Ferrari lebih bersifat organisasi daripada teknis. Artinya, fokus perbaikan akan diarahkan pada proses kerja, komunikasi internal, serta perekrutan figur-figur kunci sebagai penguat dalam jangka pendek.
Kesabaran Menjadi Kunci
Ferrari tahu bahwa publik—dan tifosi di seluruh dunia—menuntut hasil instan. Namun, dengan tantangan yang bersifat sistemik dan strategi jangka panjang yang tengah disusun, kesabaran menjadi komoditas utama di Maranello saat ini.
“Ferrari tidak sedang mencari solusi ajaib. Mereka mencari stabilitas yang bisa menopang visi jangka panjang,” ujar analis F1 Italia yang dekat dengan tim.
Jika proyek 2026 gagal, tekanan terhadap manajemen Ferrari bisa meningkat drastis. Namun untuk saat ini, semua pihak di Cavallino Rampante tampaknya sepakat pada satu hal: membangun ulang fondasi, meski harus mulai dari nol.