JAKARTA – Perusahaan teknologi Meta, yang memiliki platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp, menghapus akun Instagram milik Saleh Aljafarawi, seorang jurnalis Palestina dengan 4,5 juta pengikut, setelah ia dibunuh oleh Israel pada Minggu (12/10/2025). Aljafarawi dikenal karena dokumentasinya terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Israel selama dua tahun terakhir, yang banyak diunggah di akun Instagramnya.
Meta mengklaim bahwa penghapusan akun tersebut terkait dengan kebijakan “organisasi dan individu berbahaya”, tanpa memberikan bukti atau konteks lebih lanjut. Saleh, yang menjadi sasaran tuduhan dari Israel atas dugaan keterkaitannya dengan Hamas, adalah salah satu jurnalis yang paling vokal dalam mendokumentasikan kekejaman di Palestina.
Menurut laporan Al Jazeera, Saleh dibunuh oleh kelompok bersenjata yang diduga memiliki dukungan dari Israel, hanya beberapa hari setelah gencatan senjata yang difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump. Pada saat pembunuhannya, ia sedang merekam bentrokan antara pasukan Hamas dan kelompok bersenjata Doghmush di kompleks Sabra, Gaza. Middle East Eye melaporkan bahwa Saleh meninggal akibat tembakan berulang.
Ini bukan pertama kalinya Meta menghadapi kritik terkait penindasan terhadap konten Palestina. Sebelumnya, beberapa bulan lalu, Saleh sempat mengungkapkan frustrasinya karena dua akun Instagram-nya yang memiliki total 9,5 juta pengikut, dibekukan. Ia mengungkapkan perasaan kecewa atas keputusan Meta yang menghapus kedua akun tersebut di saat ia sangat membutuhkannya.
Meta juga dikenal karena cenderung mendukung Israel dalam beberapa kebijakan. Salah satunya, Facebook memungkinkan entitas Israel mengiklankan donasi untuk senjata yang digunakan oleh Israeli Defence Force (IDF), meskipun mendapat kecaman dari berbagai organisasi pengawas konsumen seperti Ekö, yang meminta Meta untuk menghapusnya. Sementara itu, Facebook dan Instagram sering kali menghapus konten yang memuat informasi mengenai kekejaman yang dilakukan oleh Israel di Palestina, dengan alasan melanggar pedoman komunitas.
Saleh sendiri mengungkapkan ketakutannya atas ancaman yang ia terima dari Israel karena dokumentasi yang ia buat. Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera awal tahun ini, ia mengungkapkan, “Aku hidup dalam ketakutan setiap detik, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”
Sejak dimulainya serangan Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023, setidaknya 278 pekerja media, sebagian besar berasal dari Palestina, tewas saat meliput kekerasan tersebut. Di Twitter, pelapor khusus PBB, Francesca Albanese, menyampaikan belasungkawa atas kematian Saleh dan menyerukan agar jurnalis yang gugur dihormati di museum genosida yang seharusnya dibangun setelah genosida berakhir. “Menghapus akun jurnalis yang dibunuh artinya membunuh mereka untuk kedua kalinya,” tulisnya, dikutip Jumat (17/10/2025).
Keputusan Meta untuk menghapus akun jurnalis yang telah meninggal menambah daftar panjang kontroversi terkait kebijakan platform ini dalam mengatur konten yang sensitif dan berdampak pada kebebasan pers.
