JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut baik rencana restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang tengah dibahas dengan pihak China, dengan opsi perpanjangan tenor pembayaran hingga 60 tahun. Ia menilai langkah tersebut sebagai peluang strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh, yang dioperasikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), telah menjadi sorotan sejak beroperasi pada 2023. Dengan total investasi mencapai Rp110 triliun, sebagian besar dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB), proyek ini kini menghadapi tantangan likuiditas akibat pendapatan yang belum optimal.
Pemerintah Indonesia, sebagai pemegang saham pengendali melalui PT KCIC, kini berupaya merestrukturisasi utang untuk meringankan beban fiskal negara sambil menjaga kelancaran operasional layanan berkecepatan tinggi ini.
Dalam perkembangan terbaru, tim negosiasi Indonesia dikabarkan akan melakukan kunjungan ke China untuk membahas detail kesepakatan.
Opsi utama yang dibahas mencakup pemanjangan jangka waktu pelunasan utang dari semula 30 tahun menjadi 60 tahun, disertai penyesuaian suku bunga dan jadwal pembayaran tahunan yang lebih fleksibel.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan anggaran negara hingga Rp5 triliun per tahun, sekaligus memastikan Whoosh tetap menjadi ikon transportasi modern di Asia Tenggara.
Menanggapi isu tersebut, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan apresiasinya atas inisiatif ini. Upaya diplomatik dan bisnis lintas batas ini disebutnya sebagai angin segar yang mendukung stabilitas ekonomi bilateral Indonesia-China. Saat ditanyai soal potensi keterlibatannya dalam rombongan ke China, Purbaya justru memilih gestur santai dengan acungan jempol, menekankan prioritas pada proses bisnis murni.
“Bagus. Saya enggak ikut kan? Top,” katanya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Pernyataan singkat itu menggarisbawahi sikap pemerintah yang ingin menyerahkan negosiasi sepenuhnya kepada tim ahli KCIC dan mitra China, tanpa intervensi politik berlebih. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan aset negara melalui kemitraan strategis, sambil menjaga transparansi dalam pengelolaan utang luar negeri.
Para analis ekonomi memprediksi bahwa keberhasilan restrukturisasi ini bisa menjadi preseden positif bagi proyek infrastruktur lain, seperti Tol Trans-Jawa atau Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, tantangan tetap ada, termasuk peningkatan okupansi penumpang Whoosh yang saat ini baru mencapai 40 persen dari kapasitas maksimal. Pemerintah berencana mendorong integrasi dengan moda transportasi lain untuk menaikkan utilisasi.
Hingga kini, KCIC belum merilis pernyataan resmi terkait jadwal kunjungan ke China.