Prosesi pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang wafat pada 2 November 2025 di usia 77 tahun, telah berlangsung dengan khidmat di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram (Imogiri), Bantul, Yogyakarta Rabu (5/11).
Acara ini menjadi sorotan karena menggabungkan tradisi Jawa kuno dengan partisipasi ribuan warga, menjadikannya momen bersejarah yang penuh simbolisme. Berikut beberapa fakta menarik tentang pemakaman tersebut :
1. Prosesi Brobosan: Tradisi Penghormatan Terakhir yang Megah
Prosesi dimulai pukul 08.00 WIB di Keraton Surakarta dengan upacara Brobosan, ritual Jawa di mana peti jenazah diusung dari Sasana Parasdya ke Bangsal Magangan oleh abdi dalem dan keluarga. Peti dihiasi bunga dan diiringi tembang Jawa serta doa Al-Quran, mencerminkan sinkretisme Islam-Jawa.
Jenazah kemudian dipindahkan ke Kereta Pusaka Rata Pralaya (kereta jenazah khusus), ditarik oleh delapan ekor kuda, diikuti prajurit keraton berpakaian adat. Ini adalah kereta pusaka yang sama seperti pada pemakaman PB XII pada 2004, melambangkan “perjalanan akhir” raja ke alam baka.
2. Rute Kirab yang Ikonik dan Penutupan Jalan Besar
Iring-iringan melewati rute sakral: Magangan – Alun-Alun Kidul – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali Kota Solo). Dari sana, jenazah dibawa dengan ambulans khusus ke Imogiri, menempuh sekitar 2-3 jam perjalanan.
Dinas Perhubungan Solo menutup ruas jalan utama secara situasional, termasuk sterilisasi Alun-Alun Kidul dari PKL dan kendaraan. Ribuan warga berpakaian hitam berbondong-bondong menyaksikan, menciptakan suasana duka yang masif—mirip pemakaman kerajaan abad ke-18.
3. Lokasi Pemakaman: Simbol Keabadian Dinasti Mataram
Jenazah disemayamkan sementara di Masjid Pajimatan Imogiri sebelum dikubur di Astana Raja-Raja Mataram, bagian khusus untuk raja Kasunanan Surakarta. Kompleks ini (dibangun sejak abad ke-17) terbagi tiga: makam Mataram Islam, Kasultanan Yogyakarta, dan Surakarta—menjadi “rumah abadi” para leluhur seperti Sultan Agung.
Liang lahat sudah siap sejak 4 November dini hari, tapi jenazah akan disareké (disemayamkan sementara) di atas makam Eyang Haryo Mataram hingga makam permanen selesai. Ini menambah nuansa mistis, karena Imogiri dikenal sebagai situs spiritual yang dijaga ketat oleh juru kunci.
4. Penghentian Gamelan di Keraton Yogyakarta: Simbol Solidaritas Kerajaan
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menghentikan bunyi gamelan dan pentas wisata Srimanganti sebagai bentuk duka cita, menunggu utusan Sultan HB X untuk melayat. Ini jarang terjadi dan menunjukkan ikatan erat antar-keraton Jawa, meski Surakarta dan Yogyakarta punya rivalitas historis.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan pengamanan ketat, dengan ratusan personel polisi mengawal prosesi agar aman dan tertib.
5. Ribuan Warga Berziarah dan Ucapan Terima Kasih Keluarga
Sejak wafat, Keraton menerima peziarah nonstop—dari abdi dalem, sentono, hingga pejabat seperti Kapolri. Adik PB XIII, Gusti Benowo, menyampaikan terima kasih atas penghormatan warga, menekankan pemakaman berjalan sesuai pakem Sasonopustoko (tata upacara keraton).
Di media sosial, prosesi viral dengan live streaming dari televisi menampilkan video iringan yang emosional. Netizen menyebutnya sebagai “penutup era” PB XIII, yang dikenal sebagai raja progresif dengan kontribusi pada pelestarian budaya Jawa modern.
Prosesi ini bukan hanya pemakaman, tapi juga pelajaran hidup tentang warisan budaya Jawa yang masih hidup di era digital. Suksesi keraton kini menjadi sorotan, dengan calon penerus seperti putra mahkota KGPH Hangabehi.