JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (7/11/2025),
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat naik 0,07 persen atau sekitar 11 poin ke posisi Rp16.690 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah termasuk empat mata uang di kawasan Asia Pasifik yang menguat di akhir pekan.
Paling tinggi ringgit Malaysia menguat 0,19 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,18 persen dan baht Thailand naik tipis 0,11 persen.
Sementara sebagian besar mata uang lainnya, melemah terhadap dolar AS.
Penurunan paling tajam won Korea turun 0,83 persen, yen Jepang turun 0,24 persen, dolar Taiwan terdepresiasi 0,16 persen.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah kali ini terjadi di tengah kekosongan data ekonomi dari Amerika Serikat akibat penutupan sebagian pemerintahan (shutdown) yang berkepanjangan.
“Penutupan pemerintah AS menyebabkan tertundanya rilis laporan ekonomi utama, termasuk data ketenagakerjaan dan inflasi. Sehingga pasar hanya memiliki panduan resmi yang terbatas,” kata Ibrahim, Jumat (7/11/2025).
Berikut ini tujuh faktor penggerak pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diperkirakan masih berlangsung pada pekan depan:
1. Investor Beralih ke Sumber Alternatif
Ketiadaan data resmi membuat pelaku pasar bergantung pada laporan swasta, seperti survei pekerjaan yang dirilis Kamis lalu, menunjukkan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja di AS.
Situasi ini turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) berpeluang lebih cepat menurunkan suku bunga.
2. Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga
Menurut Ibrahim, peluang penurunan suku bunga pada Desember kini naik menjadi sekitar 70 persen, meningkat dari 60 persen sehari sebelumnya.
Ekspektasi tersebut memberi sentimen positif bagi aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk rupiah.
3. Dampak Ekonomi Tiongkok
Sementara itu, dari kawasan Asia Timur, ekspor Tiongkok mencatat penurunan tak terduga pada Oktober setelah sebelumnya melonjak tajam.
Impor yang ikut melemah memperburuk neraca perdagangan negeri tersebut.
“Kondisi perekonomian Tiongkok yang tak terduga ini menunjukkan tekanan perdagangan yang berlanjut dan permintaan domestik yang lemah,” ujar Ibrahim.
4. Ketegangan AS–Tiongkok Memanas
Ketegangan antara Washington dan Beijing juga menambah beban pasar.
Laporan The Information menyebut AS berencana memblokir Nvidia dari menjual chip AI berukuran kecil ke Tiongkok, sebagai langkah untuk membatasi akses terhadap teknologi canggih.
Langkah itu memicu respons Beijing yang dikabarkan akan melarang penggunaan chip asing di pusat data milik negara.
5. Dampak Terhadap Sentimen Pasar Global
Adu kebijakan tersebut memperlihatkan rivalitas teknologi yang kian tajam, dan menjadi salah satu faktor utama fluktuasi pasar global.
Dinamika ini turut berimbas pada pergerakan rupiah yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko internasional.
6. Tantangan Ekonomi Domestik
Di sisi lain, pasar dalam negeri masih mencermati perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 yang hanya mencapai 5,04 persen.
Kondisi ini menyulitkan pemerintah mengejar target pertumbuhan tahunan sebesar 5,2 persen.
7. Proyeksi Pertumbuhan Hingga Akhir Tahun
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2025 hanya mencapai 5,5 persen, sehingga rata-rata pertumbuhan sepanjang tahun diperkirakan berada di kisaran 5,13 persen.
“Secara tren pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 di angka 5,5 persen apalagi 5,77 persen sangat jarang bisa dicapai.”
Apalagi kondisi ekonomi 2025 nyaris tidak ada momentum politik atau ekonomi besar yang bisa mendorong Indonesia tumbuh 5,5 persen di triwulan IV,” ujar Ibrahim.
Tetap Berfluktuasi
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi dan prospek ekonomi domestik yang terbatas, penguatan rupiah di akhir pekan ini menjadi sinyal optimisme pasar yang rapuh.
Pergerakan nilai tukar diprediksi tetap berfluktuasi hingga ada kejelasan mengenai arah kebijakan The Fed dan stabilisasi ekonomi global.***