Harga Bitcoin anjlok di bawah level psikologis US$90.000 pada Selasa (18/11/2025), menandai penurunan terdalamnya dalam tujuh bulan terakhir. Mata uang kripto terbesar di dunia ini sempat menyentuh level terendah di US$89.390, menghapus seluruh keuntungan yang telah dicetak sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$89.719 hingga US$91.890 pada siang hari, turun sekitar 6% dalam 24 jam terakhir dan merosot hampir 15% dalam sepekan. Penurunan ini memperdalam koreksi dari rekor tertinggi di atas US$126.000 yang dicapai pada awal Oktober lalu, mencerminkan penurunan sekitar 30% dari puncaknya.
Ketidakpastian Suku Bunga The Fed Picu Aksi Jual
Tekanan jual Bitcoin terutama dipicu oleh memudarnya harapan pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember mendatang. Peluang pemotongan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember kini berada di bawah 50%, turun drastis dari 70% hanya beberapa hari sebelumnya. Ketua Fed Jerome Powell telah memberikan sinyal bahwa bank sentral AS belum siap melakukan pelonggaran tambahan, membuat investor menahan diri dan menghindari aset berisiko tinggi.
“Dengan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember yang kini berada di bawah 50%, pasar kripto terus bergerak lebih rendah setelah kehilangan level psikologis penting US$100.000 untuk BTC,” ujar Shiliang Tang, Managing Partner Monarq Asset Management.
Arus keluar dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat juga memperburuk tekanan. BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT) mencatatkan aliran keluar rekor sebesar US$1,26 miliar sepanjang November, dengan harga IBIT anjlok 16% ke level US$52. Secara keseluruhan, 11 ETF Bitcoin spot mengalami penarikan dana total mencapai US$2,59 miliar dalam bulan ini.
Likuidasi Masif dan Sentimen Ketakutan Ekstrem
Pasar kripto juga dilanda gelombang likuidasi posisi leverage yang mencapai sekitar US$950 juta hingga lebih dari US$1 miliar dalam 24 jam terakhir. Indeks Fear & Greed yang disusun CoinMarketCap menunjukkan skor 11, menandakan pasar berada dalam kondisi “ketakutan ekstrem” — level terendah sejak pasar bear 2022.
“Menembus angka US$90.000 adalah momen psikologis yang menunjukkan kerapuhan pasar,” kata analis BTC Markets, Rachel Lucas. Dia memperingatkan level support berikutnya berada di kisaran US$85.000–87.000, dengan level kritis di US$80.000 yang jika ditembus bisa mendorong harga menuju US$74.000.
Secara teknikal, Bitcoin telah membentuk pola “death cross” — persilangan negatif antara moving average jangka pendek dan jangka panjang yang sering dianggap sebagai sinyal koreksi lanjutan. Pola ini, dikombinasikan dengan likuiditas yang menguap dan stagnannya arus masuk ETF, menciptakan tekanan jual berkelanjutan di pasar.
Altcoin Ikut Tertekan, Kapitalisasi Pasar Menyusut
Tekanan tidak hanya menimpa Bitcoin, tetapi juga merambat ke seluruh pasar kripto. Ethereum turun 3,06% dalam 24 jam dan anjlok 15,34% dalam sepekan ke US$3.033. Solana merosot 5,40% harian dan 21,45% mingguan ke US$131,52, sementara XRP turun 3,81% harian dan 15,15% mingguan ke US$2,15.
Kapitalisasi pasar kripto global telah menyusut menjadi sekitar US$3,23 triliun, kehilangan lebih dari US$1,1 triliun atau sekitar 25% sejak mencapai puncaknya pada 7 Oktober. Para analis memperingatkan bahwa tanpa katalis positif seperti pemangkasan suku bunga yang lebih agresif atau masuknya likuiditas institusional baru, tekanan jual kemungkinan akan berlanjut.
Christopher Tahir, co-founder CryptoWatch, melihat potensi Bitcoin masih bisa turun ke US$75.000 pada akhir tahun jika siklus bearish berlanjut. Namun, Gabriel Rey, Founder dan CEO TRIV, memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak di kisaran US$90.000–US$120.000 hingga akhir 2026, dengan potensi menembus rekor baru jika The Fed memangkas suku bunga.