JAKARTA – TNI Angkatan Laut (AL) tengah mempersiapkan pengiriman prajurit ke Jalur Gaza sebagai bagian dari pasukan perdamaian atas instruksi langsung Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin. Prioritas utama misi ini adalah membantu korban sipil melalui tenaga kesehatan dan memperbaiki infrastruktur yang hancur akibat konflik berkepanjangan.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menegaskan bahwa pengiriman prajurit tersebut sepenuhnya berorientasi pada bantuan kemanusiaan.
“Point utama yang diprioritaskan TNI AL untuk memberangkatkan prajurit, sesuai instruksi dari Bapak Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin,” ujar Laksma Tunggul dalam keterangan resmi, Rabu (19/11/2025)
Ia merinci bahwa prajurit yang akan diberangkatkan terdiri atas dua kelompok utama. Pertama, tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan medis kepada masyarakat sipil yang menjadi korban perang.
“Difokuskan kepada prajurit di bidang kesehatan untuk membantu masyarakat sipil yang menjadi korban perang selama konflik berlangsung,” tegasnya.
Kelompok kedua adalah prajurit yang ahli di bidang konstruksi dan teknik sipil. Mereka akan bertugas memperbaiki fasilitas publik yang rusak berat, seperti rumah sakit, sekolah, jaringan air bersih, dan jalan raya.
“Selain itu juga difokuskan kepada prajurit yang membidangi konstruksi, guna melaksanakan perbaikan infrastruktur masyarakat yang hancur di wilayah konflik Gaza,” imbuh Laksma Tunggul.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari komitmen Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan nyata di tengah situasi konflik yang masih berlangsung. Pengiriman pasukan perdamaian RI ke Gaza sebelumnya juga pernah dilakukan pada era 1956-1967 dalam kerangka United Nations Emergency Force (UNEF).
Hingga berita ini diturunkan, TNI AL masih melakukan seleksi dan pelatihan khusus bagi calon kontingen. Jumlah pasti prajurit yang akan diberangkatkan serta jadwal keberangkatan belum dirilis secara resmi, menunggu koordinasi lebih lanjut dengan PBB dan pihak terkait lainnya.
Kesiapan Indonesia mengirimkan tenaga medis dan insinyur militer ke Gaza kembali menegaskan posisi diplomasi kemanusiaan aktif Tanah Air di panggung internasional, sekaligus menjadi bentuk solidaritas konkret terhadap rakyat Palestina yang terus menderita dampak perang.
