SOLO – Kunjungan Ratu Maxima ke Kampung Batik Laweyan, Solo, pada Selasa siang menjadi momen penting untuk meninjau langsung kondisi kesehatan finansial masyarakat setempat dalam kapasitasnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Inklusi Keuangan.
“Ini adalah hari pertama saya berada di di sini. Kunjungan saya di Indonesia, di Solo, tempat yang sangat indah, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan berbagai kelompok,” katanya.
Dalam agenda awal di Solo, ia berdialog dengan pekerja garmen dan para mahasiswa yang tengah menata perencanaan masa depan mereka.
“Serta, sekelompok ibu-ibu luar biasa yang membuat batik dan juga para wirausaha mikro lainnya yang dengan usaha itu mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka. ”
“Tujuan utama dari percakapan ini adalah untuk belajar mengenai realitas finansial dari tiga kelompok berbeda tersebut. Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari agar dapat bertahan hingga akhir bulan,” katanya.
Ratu Maxima juga menggali bagaimana warga setempat mengantisipasi situasi darurat, mulai dari kecelakaan, penurunan pendapatan, hingga kewajiban membantu keluarga di kampung halaman.
“Kami juga membahas bagaimana mereka mulai memikirkan tujuan jangka panjang, seperti membeli rumah atau bahkan memikirkan masa pensiun, apakah itu memungkinkan?”
“Kami juga berbicara mengenai berbagai risiko, seperti kecelakaan atau masalah kesehatan, dan bagaimana mereka melindungi diri dari risiko-risiko tersebut,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa esensi kunjungannya adalah memahami strategi finansial yang digunakan masyarakat serta tantangan yang mereka hadapi di tengah kondisi ekonomi saat ini.
“Dalam dua hari ke depan, kami juga akan berdiskusi dengan OJK, Bank Indonesia, berbagai kementerian, serta bank-bank dan perusahaan fintech untuk memikirkan bagaimana merancang produk yang dapat membantu masyarakat Indonesia menghadapi tantangan tersebut dengan lebih baik,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, ia memuji capaian Indonesia dalam memperluas inklusi keuangan yang kini telah menjangkau lebih dari 80 persen masyarakat.
“Yang penting adalah bagaimana kita dapat membantu mereka lebih jauh, bukan hanya untuk melakukan pembayaran, tetapi juga mewujudkan impian mereka. Dan, ketika sesuatu terjadi, mereka memiliki perlindungan,” katanya.***