Banjir dan longsor yang menerjang 18 kabupaten/kota di Aceh sejak akhir November menimbulkan dampak kemanusiaan besar. Hingga Selasa (2/12/2025), bencana tersebut telah menewaskan 173 orang, sementara 204 warga masih dinyatakan hilang dan 1.800 lainnya menderita luka-luka.
Selain korban jiwa, kerusakan meluas mencakup 77.049 rumah, 152 ruas jalan yang terputus, dan 201 sekolah rusak, memicu krisis energi serta pasokan kebutuhan pokok.
Di berbagai daerah, antrean panjang di SPBU mencapai 1–2 kilometer akibat langkanya bahan bakar. Di Lhokseumawe dan Langsa, ribuan warga terpaksa mengantre berjam-jam. Banyak pengendara mendorong motor mereka karena kehabisan bensin.
Kelangkaan terjadi setelah kapal pengangkut BBM terganggu oleh cuaca ekstrem, sehingga Pertamina harus mengalihkan pasokan melalui terminal alternatif di Lhokseumawe, Dumai, dan Malahayati.
Krisis energi juga diperparah oleh padamnya listrik hingga tujuh jam per hari di beberapa wilayah, setelah 12 tower SUTT 150 kV di Bireuen roboh akibat longsor. PLN telah mengirim 30 ton peralatan dari Jakarta dan menargetkan pemulihan dalam lima hingga tujuh hari.
Sementara itu, lonjakan harga sembako membuat warga semakin terdesak. Harga cabai di Kota Langsa menembus Rp300.000 per kilogram, bensin eceran mencapai Rp50.000 per liter, dan bawang merah di Banda Aceh tembus Rp100.000 per kilogram. Banyak keluarga bertahan hanya dengan nasi putih tanpa lauk. “Bayi kami sudah dua hari makan nasi putih,” ungkap Yulia, warga Langsa.
Akses ke berbagai wilayah juga lumpuh total. Jalur utama seperti Banda Aceh–Lhokseumawe, Bireuen–Takengon, dan Gayo Lues–Aceh Tamiang terputus. Satu-satunya jalur alternatif melalui Jembatan Gantung Awe Geutah, namun kapasitasnya sangat terbatas.
Presiden Prabowo Subianto meninjau Aceh Tenggara pada Senin (1/12) dan berjanji mempercepat perbaikan jembatan serta distribusi bantuan. Pemerintah telah menyalurkan 27 ton logistik melalui jalur laut, serta mengirim bantuan udara ke wilayah yang masih terisolasi seperti Gayo Lues dan Bener Meriah. Pemerintah Aceh telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025.
