ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) resmi mendatangkan lima ahli forensik dan geofisika dari Tiongkok lengkap dengan teknologi deteksi jenazah mutakhir untuk mempercepat pencarian puluhan korban banjir bandang dan longsor yang masih terkubur di bawah lumpur sedalam 1–2 meter.
“Mereka punya alat mendeteksi mayat dalam lumpur. Ini sangat membantu,” tegas Mualem dalam keterangan resmi, Sabtu (6/12/2025).
Teknologi yang dibawa tim Tiongkok tersebut memanfaatkan gelombang elektromagnetik dan ground-penetrating radar (GPR) yang mampu mendeteksi tubuh manusia hingga kedalaman beberapa meter di bawah permukaan lumpur tanpa harus menggali secara manual. Perangkat ini sudah terbukti efektif di berbagai bencana serupa di Tiongkok dan sejumlah negara lainnya.
“Lumpur itu sampai pinggang, jadi mereka ada alat untuk membantu kita,” tambah Mualem.
Langkah cepat ini diambil karena tim SAR gabungan selama enam hari terakhir kesulitan menemukan 92 korban yang masih berstatus hilang di Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan sebagian wilayah Bireuen. Lumpur yang sangat tebal serta luasnya area bencana membuat metode pencarian konvensional tak lagi efektif.
Hingga Minggu pagi (7/12/2025), korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Aceh mencapai 349 orang, sementara ratusan ribu warga masih bertahan di posko pengungsian.
Kehadiran tim ahli Tiongkok ini menjadi harapan baru bagi keluarga korban yang hingga kini menanti kepastian nasib sanak saudaranya. Operasi pencarian menggunakan teknologi canggih itu langsung dimulai sejak Sabtu malam dan terus berlangsung intensif hingga berita ini diturunkan.
Pemerintah Provinsi Aceh menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Tiongkok dan pemerintah pusat untuk memastikan teknologi ini dimanfaatkan maksimal hingga seluruh korban berhasil ditemukan.