Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar dan menegaskan posisinya sebagai salah satu festival film paling berpengaruh di Asia Tenggara. Selama bertahun-tahun, JAFF telah menjadi ruang temu penting bagi sutradara, produser, aktor, komunitas film, hingga penonton yang mengikuti perkembangan sinema independen Asia.
Lebih dari sekadar ajang pemutaran film lintas negara, JAFF tumbuh sebagai wadah lahirnya gagasan, dialog kreatif, serta jejaring kolaborasi lintas generasi. Festival ini menjadi titik temu antara idealisme artistik dan dinamika industri yang terus berkembang.
Pada penyelenggaraan tahun ini, JAFF memperkuat perannya sebagai ekosistem pembelajaran dengan kehadiran Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bersama PT Produksi Film Negara (PFN). Kolaborasi ini menghadirkan program Coaching Clinic, sebuah platform pendampingan yang menjembatani kreator muda dengan industri film nasional dan global.
Program Coaching Clinic terbuka bagi pelajar, sineas pemula, komunitas film, hingga produser yang tengah mengembangkan proyek. Para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari coach berpengalaman dengan rekam jejak produksi aktual.
Materi yang dibahas mencakup penyusunan business model berkelanjutan, strategi pemasaran film, pengembangan naskah, penyutradaraan kreatif, peran musik dan desain suara, manajemen proyek, hingga penyusunan film deck agar mampu bersaing di hadapan investor dan platform distribusi global.
Sesi coaching berlangsung intensif dan personal, memberi ruang bagi peserta untuk menguji ide, mempresentasikan proyek film, menerima masukan teknis, sekaligus memantapkan arah pengembangan karya. Salah satu peserta sesi bersama Leonard Lai mengaku mendapatkan perspektif baru dari pengalaman tersebut.
“Banyak hal yang membuat saya memahami bagaimana film bisa memiliki arah yang jelas, baik dari sisi ide maupun strategi pengembangan. Perspektif pelaku industri luar negeri membantu saya melihat standar dan dinamika global,” ujarnya.
Pada hari pelaksanaan, Wakil Menteri Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, turut meninjau langsung area coaching dan memberikan dukungan terhadap pengembangan talenta film muda Indonesia.
Para mentor menilai Coaching Clinic ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional. Komposer sekaligus pendiri Elwin Music, Elwin Hendrijanto, menyebut berbagi pengalaman dengan peserta sebagai proses yang inspiratif.
“Program seperti ini penting agar sineas Indonesia semakin siap bersaing di tingkat internasional. Sukses untuk Ekraf, PFN, JAFF, dan semua pihak yang mendukung kemajuan perfilman Indonesia,” tuturnya.
Apresiasi juga datang dari tokoh publik Kanjeng Pangeran Notonegoro yang menilai kehadiran Ekraf dan PFN di JAFF memperluas ruang belajar yang relevan dan sangat dibutuhkan generasi muda yang ingin berkembang di dunia film.
Keterlibatan Ekraf dan PFN di JAFF 2025 menandai babak baru strategi pengembangan industri film nasional. Melalui penyediaan fasilitas, pengetahuan, dan jaringan yang sebelumnya sulit dijangkau sineas muda, inisiatif ini menegaskan bahwa masa depan film Indonesia tidak hanya ditentukan oleh produksi karya, tetapi juga oleh ekosistem pembelajaran, kolaborasi lintas peran, dan keberlanjutan pengetahuan bagi generasi berikutnya.