KARAWANG – Di tengah eskalasi konflik bersenjata, pelatihan Tactical Combat Casualty Care (TCCC) dinilai krusial untuk menekan angka kematian di medan konflik, baik pada prajurit maupun warga sipil. Dokter Militer Melatpur Kostrad, Kapten Ckm dr. Jeffri Ginting, menegaskan protokol TCCC juga penting diterapkan oleh jurnalis yang bertugas di wilayah rawan.
Menurut dr. Jeffri, TCCC dirancang khusus untuk menangani korban trauma di lingkungan taktis yang berbahaya, di mana evakuasi medis sering kali terhambat kondisi lapangan.
“Hampir 90 persen kematian dalam peperangan terjadi sebelum korban mendapatkan penanganan medis lanjutan di pos kesehatan,” ujarnya saat memberikan materi pelatihan peliputan di daerah rawan yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan di Menlatpur Kostrad, Sangabuana, Karawang beberapa Waktu lalu.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pertolongan pertama di lokasi kejadian menjadi faktor penentu keselamatan korban. Tidak hanya tenaga medis, prajurit nonmedis hingga jurnalis yang berada di sekitar lokasi konflik berpotensi menjadi penolong pertama bagi korban luka.
Pelatihan TCCC dinilai semakin relevan di wilayah rawan konflik seperti Papua dan daerah perbatasan. Sejumlah organisasi pers, termasuk Aliansi Jurnalis Independen, mulai mengintegrasikan prinsip TCCC dalam pelatihan keselamatan jurnalis untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Dr. Jeffri menambahkan, TCCC berfokus pada penanganan cedera paling mematikan yang dapat dicegah, seperti perdarahan masif dan gangguan pernapasan. “Salah satu cedera berisiko tinggi adalah junctional hemorrhage, yakni perdarahan hebat di area selangkangan atau ketiak yang sulit dikendalikan tanpa teknik dan alat khusus,” katanya.
