TEHERAN – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang berada dalam “perang total” atau “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Eropa, merujuk pada tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik yang menyeluruh. Pernyataan keras ini disampaikan dalam wawancara yang dipublikasikan di situs resmi Pemimpin Tertinggi Iran, menggambarkan konflik saat ini lebih kompleks daripada Perang Iran-Irak 1980-an. Retorika ini muncul enam bulan pasca-perang udara 12 hari Iran-Israel pada Juni 2025, yang menewaskan ribuan orang dan memicu sanksi baru dari Barat.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Konflik mencapai puncak ketika Israel melancarkan serangan udara masif ke fasilitas nuklir dan militer Iran, diikuti respons rudal dari Teheran serta intervensi AS yang menghancurkan tiga situs nuklir utama. Washington di bawah Presiden Donald Trump memperketat doktrin “maximum pressure” dengan sanksi ekspor minyak dan keuangan, sementara Prancis, Inggris, serta Jerman mereaktivasi sanksi PBB atas dugaan pelanggaran kesepakatan nuklir. Pezeshkian menuduh Barat ingin “membuat Iran bertekuk lutut” melalui kombinasi sanksi, isolasi diplomatik, dan perang informasi, yang disebutnya setara dengan perang modern multidimensi.
Makna Retorika “Perang Total”
Pezeshkian menegaskan, “Kami berada dalam perang total dengan AS, Israel, dan Eropa,” menekankan dimensi ekonomi, politik, budaya, serta keamanan yang saling terkait. Meski begitu, tidak ada deklarasi perang formal secara hukum internasional seperti nota diplomatik atau pengumuman di PBB, menjadikan istilah ini lebih sebagai narasi geopolitik untuk mobilisasi domestik. Iran klaim kekuatan militernya kini lebih superior, dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memamerkan rudal balistik, drone, dan proksi di Lebanon, Yaman, serta Irak sebagai penangkal.
Risiko Eskalasi Regional dan Respons Internasional
Analis memperingatkan retorika ini berpotensi memicu konflik lebih luas di Timur Tengah, terutama jika menyangkut jalur energi Teluk atau korban sipil massal. Israel menjadikan pernyataan ini pembenaran bagi operasi pencegahan, sementara AS melihatnya sebagai bukti kegagalan diplomasi nuklir 2025. Eropa terjepit antara tekanan sanksi dan kekhawatiran dampak pada migrasi serta pelayaran global.
Implikasi Geopolitik Global
Pernyataan Pezeshkian memperkuat polarisasi Barat vs. Iran, dengan Rusia mendukung Teheran secara retoris pasca-serangan Israel. Situasi ini menggagalkan negosiasi nuklir awal 2025 dan berisiko mengganggu pasar minyak dunia di tengah ketegangan Trump era kedua. Komunitas internasional mendesak de-eskalasi untuk hindari perang regional penuh