ACEH TAMIANG — Presiden RI Prabowo Subianto berkomitmen untuk terus memantau pemulihan pascabencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hari ini, Kamis (1/1/2025), mengawali tahun 2026, Prabowo langsung meninjau hunian sementara (huntara) yang dibangun Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Aceh Tamiang, Aceh.
“Saya kemarin sempat ke Tapanuli Selatan. Dan hari ini saya kembali ke Aceh Tamiang yang merupakan salah satu kabupaten yang paling besar terdampak bencana,” kata Prabowo saat memimpin rapat koordinasi, usai meninjau sejumlah hunian yang sudah rapi.
Hadir dalam rapat koordinasi, yakni 10 anggota Kabinet Merah Putih, 15 direktur utama BUMN, gubernur dan wakil gubernur Aceh, serta Bupati Aceh Tamiang.
Prabowo menegaskan kedatangannya kembali ke lokasi bencana yang dilakukan sejak awal tahun karena banyak yang bertanya soal kehadiran Presiden.
“Banyak kabupaten lain bertanya, kok Presiden belum sampai? Saya minta maaf, saya belum bisa ke semua titik (bencana), tapi saya pilih atau saya disarankan hadir di tempat-tempat yang sedang ada kegiatan penting,” kata Prabowo.
Meski begitu, Prabowo berjanji sebisa mungkin akan mendatangi tempat-tempat yang terdampak bencana. Dia mengerti semua daerah terdampak pasti mengalami kesulitan.
“Saya sudah sampaikan ke gubernur dan Mendagri, nanti insya Allah saya coba tetap ke daerah-daerah yang dampaknya besar. Akan saya datangi,” katanya.
Prabowo juga mengucapkan selamat tahun baru untuk warga terdampak. Sebagai wujud kepedulian, Prabowo hadir mengawali tahun baru di daerah bencana.
“Saya kira ini memang kewajiban kita. Saya berterima kasih karena semua unsur saya lihat turun ke lapangan. Saya juga berterima kasih hampir semua pejabat dari kementerian/lembaga berinisiatif turun dan kita berbagi,” jelasnya.
Menurutnya, kedatangan banyak pejabat ke lokasi bencana bukan sekadar datang. Hal ini sebagai upaya untuk terus saling mengecek, memeriksa, hingga mencari masalah.
“Kita datang sekali lagi bukan sekadar untuk melihat, tapi kita datang untuk mengetahui masalah,” katanya.
Menurutnya, salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, atau siap untuk difitnah. Namun, lanjut Prabowo, seorang pemimpin tidak boleh kita patah semangat.
“Semua itu kita terima sebagai koreksi juga. Enggak apa-apa, walaupun itu fitnah, kalau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar, itu jadi waspada bagi kita,” katanya.
Prabowo percaya bahwa bukti adalah cara paling baik dalam menjawab kritik.
“Evidence based itu cara bekerja saya. Kalau saudara perhatikan saya jarang kasih wawancara dengan pers, saya bukan tidak hormati pers, tapi karena saya mengerti psikologi rakyat Indonesia.”
“Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti, bukti. Kita sekarang dalam rangka membuktikan. Jadi, kalau ada menteri-menteri pejabat turun, itu dia tidak turun untuk wisata. Dia datang, melihat, mencatat, mengerti, dan mengambil keputusan,” jelasnya.