TEHERAN, IRAN – Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 terus memakan korban jiwa. Kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 36 orang tewas selama 10 hari terakhir aksi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi parah.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mencatat, 34 korban jiwa merupakan demonstran sipil, sementara dua lainnya adalah anggota pasukan keamanan. Selain itu, lebih dari 60 demonstran dilaporkan terluka dan sebanyak 2.076 orang ditangkap. Aksi protes telah menyebar ke 27 dari total 31 provinsi di Iran.
Pemerintah Iran hingga kini belum merilis data korban resmi. Namun, otoritas mengakui tiga personel keamanan tewas dalam kerusuhan. Di sisi lain, BBC Persia menyatakan telah memverifikasi identitas dan kematian sedikitnya 20 orang.
Insiden terbaru terjadi pada Selasa malam, 6 Januari 2026. Media semi-resmi Iran melaporkan seorang polisi tewas ditembak oleh kelompok yang disebut sebagai “perusuh” di Malekshahi, Provinsi Ilam, Iran bagian barat. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik protes paling intens, dengan respons keras dari aparat keamanan.
Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan pasukan keamanan menembakkan gas air mata ke arah massa di kawasan Pasar Besar Teheran. Para pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan anti-penguasa ulama.
Protes bermula pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang di ibu kota turun ke jalan menyusul anjloknya nilai tukar rial Iran ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Inflasi yang mencapai 40 persen, ditambah sanksi internasional terkait program nuklir, praktik korupsi, dan buruknya pengelolaan ekonomi, memperburuk kondisi masyarakat.
Mahasiswa dan warga dari berbagai lapisan sosial kemudian bergabung, menyebabkan demonstrasi meluas ke puluhan kota. Aksi sporadis terus berlangsung di sekitar Pasar Besar Teheran, termasuk kawasan Pasar Yaft Abad di selatan, pusat perbelanjaan Caterpillar di barat daya, serta persimpangan Azari.
Di Malekshahi, rekaman lain menunjukkan sejumlah bank dibakar. Massa terlihat merayakan aksi tersebut di tengah bara api dari perabotan dan ban yang dibakar. Kelompok hak asasi manusia Kurdi, Hengaw, melaporkan sedikitnya 27 kematian terverifikasi, termasuk lima anak. Hengaw juga menuding adanya penyerbuan pasukan keamanan ke Rumah Sakit Imam Khomeini di Kota Ilam untuk menangkap demonstran yang terluka.
Menurut Hengaw, lima demonstran tewas di Malekshahi pada Sabtu sebelumnya, termasuk seorang pensiunan brigadir jenderal. Namun, media semi-resmi Iran melaporkan hanya tiga korban tewas, termasuk satu anggota pasukan keamanan, saat kelompok yang disebut “perusuh” mencoba menduduki fasilitas keamanan.
Menanggapi kerusuhan di Provinsi Ilam, Presiden Masoud Pezeshkian memerintahkan pembentukan delegasi khusus untuk melakukan investigasi. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa “para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya” dan menegaskan Iran tidak akan “menyerah kepada musuh”.
Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyatakan pemerintah akan mendengar keluhan sah masyarakat terkait persoalan mata pencaharian. Namun, ia menegaskan aparat tidak akan bersikap lunak terhadap mereka yang dianggap melakukan kerusuhan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 2 Januari 2026, mengeluarkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa Washington “siap siaga dan siap bertindak” apabila pasukan Iran membunuh demonstran damai.
Gelombang protes ini disebut sebagai yang terbesar sejak demonstrasi massal pada 2022 menyusul kematian Mahsa Amini. Pada saat itu, lebih dari 550 orang dilaporkan tewas dan sekitar 20.000 lainnya ditangkap dalam penindakan aparat.
Hingga kini, situasi di Iran masih diliputi ketegangan, dengan potensi eskalasi lebih lanjut seiring berlanjutnya ketidakstabilan ekonomi dan politik di negara tersebut.