NEW YORK – Gelombang investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) mulai memunculkan tanda-tanda retaknya optimisme di Wall Street. Sejumlah manajer dana besar memilih menarik diri dari saham teknologi, sementara investor ritel tetap percaya diri bahwa tren AI belum akan berhenti dalam waktu dekat.
Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, baru-baru ini menyebut bahwa “ledakan AI yang kini berada di tahap awal gelembung telah memengaruhi segalanya.” Peringatan itu datang di tengah lonjakan indeks S&P 500 yang naik 92 persen sejak Oktober 2022, mencatatkan tiga tahun berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.
Namun di balik euforia itu, pemain besar mulai mengerem. GQG Partners, pengelola dana senilai lebih dari 166 miliar dolar AS, telah melepas seluruh saham di kelompok “Magnificent Seven” sejak November lalu. Ketua GQG, Rajiv Jain, mengingatkan bahwa risiko ledakan gelembung AI semakin mendekat. Langkah serupa juga diambil Blue Whale Growth Fund, yang menjual saham Microsoft dan Meta karena menilai valuasi pasar AI kini “terlalu gila”.
Putaran Dana yang Bikin Waspada
Salah satu alasan utama munculnya kekhawatiran adalah praktik pembiayaan melingkar (circular financing), di mana penyedia infrastruktur AI ikut berinvestasi pada startup yang justru menjadi konsumennya. Pola ini menciptakan siklus saling ketergantungan yang bisa berantakan jika satu pemain besar tergelincir.
“Kalau satu perusahaan besar goyah, seluruh industri bisa ikut ambruk,” kata seorang analis pasar.
Data terbaru menunjukkan perusahaan teknologi Amerika Serikat diperkirakan akan menggelontorkan 395 miliar dolar AS pada 2025, naik lebih dari 150 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, sebagian besar startup AI masih merugi. Kepala investasi Amundi, Vincent Mortier, menyebut “pertanyaannya bukan lagi apakah ada ekses di pasar saham AI, tetapi siapa yang akhirnya akan menjadi korban.”
Investor Ritel Masih Pede
Menariknya, investor kecil justru tidak terguncang oleh peringatan para manajer dana besar. Survei oleh The Motley Fool mengungkap bahwa 93 persen investor ritel yang sudah memegang saham atau ETF berbasis AI masih optimistis dengan prospek jangka panjang sektor ini. Hanya 7 persen yang berencana mengurangi eksposur terhadap saham AI dalam setahun ke depan.
Bank investasi besar pun masih terbelah. J.P. Morgan Private Bank menilai risiko terbesar justru datang dari “tidak terlibat dalam transformasi besar ini,” sementara BlackRock menilai belum ada tanda-tanda bubble, meski mengingatkan agar investor siap menghadapi perjalanan yang “tidak mulus” di 2026.
Secara umum, analis di Wall Street masih optimistis. Proyeksi dari 19 lembaga besar memperkirakan indeks S&P 500 bisa menembus 7.600 pada akhir 2026 — naik sekitar 11 persen — didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang tetap digerakkan oleh AI.
Seperti dikatakan Gene Goldman, CIO Cetera Financial Group, “Gelembung biasanya pecah saat pasar beruang datang. Kami belum melihat tanda-tanda pasar beruang dalam waktu dekat.”
Tantangannya kini: apakah investasi triliunan dolar di sektor AI benar-benar akan menciptakan masa depan baru, atau justru menjadi babak berikut dari kisah klasik bubble di dunia keuangan?