ACEH – Banjir bandang dahsyat pada akhir November 2025 yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam pada infrastruktur pendidikan khusus. Hingga Selasa (13/1/2026), Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang masih belum dapat menjalankan proses belajar mengajar secara penuh. Sekitar 80 persen dari total 77 ruangan beserta halaman sekolah tertutup lumpur tebal dan puing material akibat terjangan air bah setinggi hingga empat meter.
Kerusakan ini menimpa fasilitas yang selama ini dirancang ramah aksesibilitas bagi siswa penyandang disabilitas, sehingga menegaskan urgensi penerapan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif. Sekolah khusus ini menjadi salah satu objek vital berisiko tinggi yang membutuhkan perlindungan berlapis, mulai dari mitigasi fisik, kesiapsiagaan komunitas, hingga pemulihan berkelanjutan pascabencana.
Gotong Royong Lintas Sektor Percepat Pemulihan
Pemulihan SLB Negeri Pembina dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, organisasi nonpemerintah, relawan, serta warga sekitar. Upaya ini mencerminkan pendekatan whole-of-society dalam kebijakan PRB nasional. Pembersihan dimulai dari musala di tengah kompleks sekolah yang memiliki fungsi strategis sebagai ruang aman, titik kumpul, dan pusat koordinasi evakuasi saat kondisi darurat. Langkah ini krusial untuk menjamin akses yang mudah bagi siswa dengan beragam disabilitas.
Pembersihan akses antarruang menghadapi tantangan berupa lumpur setebal lebih dari 30 sentimeter. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mengerahkan ekskavator dengan dukungan Dana Siap Pakai (DSP) dari BNPB. TNI turut membangun sumur bor guna menyediakan air bersih bagi kebutuhan sanitasi dan pemulihan lingkungan. Sementara itu, Yayasan Buddha Tzu Chi serta Baznas berkontribusi dalam pembersihan ruang kelas, penyediaan logistik, dan permakanan bagi guru serta relawan. Masyarakat setempat juga aktif membuka jalur akses yang kini dimanfaatkan sebagai ruang belajar sementara.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas sebagai bagian integral dari PRB.
Evakuasi Mandiri Guru Sukses Selamatkan Seluruh Siswa
Keberhasilan respons darurat yang paling menginspirasi terlihat dalam proses evakuasi siswa berkebutuhan khusus. Guru dan tenaga kependidikan SLB berhasil menyelamatkan seluruh siswa asrama ke lantai dua musala dengan menggunakan perahu darurat yang dibuat dari batang pohon pisang.
Muslim Hasan, ASN tata usaha sekolah yang juga merupakan penyandang disabilitas low vision, menjadi salah satu aktor kunci sekaligus saksi dalam proses heroik tersebut.
“Hampir tidak percaya, tetapi kami bisa melakukannya bersama-sama. Dengan segala keterbatasan, yang terpenting adalah memastikan anak-anak selamat,” ujar Muslim.
Evakuasi berbasis kebutuhan spesifik ini berhasil dilakukan tanpa korban jiwa. Hal tersebut membuktikan bahwa penyandang disabilitas bukan hanya objek perlindungan, melainkan subjek aktif dalam pengelolaan risiko bencana apabila dibekali pengetahuan dan dukungan yang tepat.
Pelatihan Sejak 2022 Jadi Kunci Ketangguhan
Keberhasilan evakuasi tersebut tidak terlepas dari penguatan kapasitas yang telah dilakukan sebelumnya. Pada tahun 2022, SLB Negeri Pembina ditetapkan sebagai SLB Tangguh Bencana setelah mengikuti pelatihan kesiapsiagaan yang difasilitasi oleh BPBD Kabupaten Aceh Tamiang. Pelatihan tersebut dirancang secara inklusif dengan menyesuaikan metode terhadap ragam disabilitas, mencakup pengenalan risiko, penentuan jalur evakuasi, serta simulasi secara berulang.
Pengalaman nyata ini memperkuat argumen bahwa investasi pada pendidikan kebencanaan yang inklusif mampu meningkatkan ketahanan individu dan institusi, sejalan dengan pengarusutamaan disabilitas dalam kebijakan PRB nasional.
Menuju Sekolah Lebih Tangguh dan Inklusif
Pemulihan ke depan ditargetkan tidak hanya untuk mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga meningkatkan ketahanan sekolah terhadap potensi bencana di masa mendatang. Salah satu prioritas mendesak adalah pembangunan shelter evakuasi mandiri yang ramah disabilitas, dilengkapi dengan desain universal, jalur aman, serta fasilitas pendukung.
“Kami berharap sekolah ini memiliki gedung shelter evakuasi yang inklusif, karena lokasi sekolah dekat dengan sungai dan berpotensi mengalami bencana berulang,” ujar Muslim.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa fase pascabencana merupakan momentum penting untuk memperkuat PRB yang inklusif. Dengan memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal, upaya pengurangan risiko bencana akan menjadi lebih adil, efektif, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
