Insiden maut ini terjadi pada Rabu (13/1) sekitar pukul 09.30 waktu setempat (02.30 GMT), saat sebuah derek tengah mengangkat segmen beton berukuran besar di lokasi proyek. Dalam proses tersebut, derek kehilangan kendali dan menjatuhkan muatan beton tepat ke atas kereta penumpang yang sedang melintas.
Akibatnya, empat gerbong kereta anjlok. Dua gerbong terdepan mengalami kerusakan paling parah karena langsung tertimpa segmen beton, sementara gerbong ketiga dan keempat rusak berat dan terlepas dari rangkaian.
Salah satu petugas kereta, Thirasak Wongsoongnern, kepada media lokal Thairath Online menjelaskan bahwa kereta tersebut sebenarnya terdiri dari tiga gerbong. Gerbong pertama tidak mengalami kerusakan, sedangkan dua gerbong lainnya—yang menjadi lokasi sebagian besar korban tewas dan luka—mengalami hantaman langsung.
Menurut Thirasak, saat kecelakaan terjadi kereta melaju dengan kecepatan sekitar 120 kilometer per jam. “Ketika derek jatuh, saya dan penumpang lain terpental ke udara,” ujarnya. Ia segera berusaha menolong penumpang, namun tidak dapat menjangkau gerbong kedua karena api telah berkobar.
Berdasarkan denah tempat duduk, terdapat 195 penumpang di dalam kereta. Hingga kini, jumlah korban tewas tetap 28 orang, sementara 64 orang lainnya mengalami luka-luka, dengan delapan korban dalam kondisi kritis.
Laporan BBC Thai menyebutkan sebagian besar penumpang adalah pelajar dan pekerja yang bepergian dari Stasiun Pak Chong menuju sejumlah distrik lain.
Kementerian Kesehatan Thailand mengonfirmasi bahwa di antara korban luka berat terdapat seorang balita berusia satu tahun dan lansia berusia 85 tahun. Banyak korban mengalami luka serius di bagian kepala, wajah, dan dada, serta patah tulang kaki. Benturan keras menyebabkan satu gerbong keluar jalur dan gerbong lainnya terbakar hebat.
Kereta tersebut diketahui berangkat dari Bangkok dan tengah menuju Provinsi Ubon Ratchathani. Sekitar tengah hari waktu setempat, otoritas menyatakan seluruh korban telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian.