TEHERAN, IRAN – Gelombang protes besar-besaran di Iran terus menelan korban jiwa. Kelompok pemantau HAM asal AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 2.003 orang tewas akibat tindakan keras aparat keamanan selama 17 hari terakhir, di tengah pemadaman internet nasional hampir total.
Menurut data HRANA yang dirilis Selasa (13/1/2026), korban tewas terdiri dari 1.850 demonstran, 135 aparat atau afiliasi pemerintah, sembilan warga sipil, dan sembilan anak-anak. Selain itu, masih ada 779 laporan kematian yang sedang diverifikasi. Wakil Direktur HRANA, Skylar Thompson, menyebut angka tersebut kemungkinan masih di bawah jumlah sebenarnya.
Sementara itu, kelompok Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengonfirmasi sedikitnya 734 demonstran tewas. Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, menegaskan data itu hanya berasal dari kurang dari separuh provinsi dan kurang dari 10 persen rumah sakit, sehingga jumlah sebenarnya kemungkinan mencapai ribuan.
Protes telah meluas ke 187 kota di 31 provinsi, dipicu oleh anjloknya nilai rial dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Aksi yang semula bernuansa ekonomi dengan cepat berubah menjadi tuntutan perubahan politik besar-besaran, menjadi salah satu tantangan terberat bagi rezim Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Pemerintah Iran merespons dengan kekerasan mematikan, terutama sejak Kamis pekan lalu, bersamaan dengan pemutusan akses komunikasi secara luas. Seorang pejabat Iran kepada Reuters mengklaim sekitar 2.000 kematian, namun menuding “teroris” sebagai pihak yang bertanggung jawab.
### Trump: “Bantuan Sedang dalam Perjalanan”
Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terbuka kepada para pengunjuk rasa. Melalui Truth Social, ia menulis bahwa seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dibatalkan hingga pembunuhan demonstran “berhenti”, disertai pernyataan, “Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA!”
Kepada wartawan, Trump mengatakan AS akan mengambil “tindakan yang sesuai” setelah memperoleh angka korban yang akurat. Ia mengaku tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk tindakan militer, serta mengumumkan tarif 25 persen bagi negara mana pun yang masih berdagang dengan Iran.
Situasi di Iran tetap sangat tegang, dengan laporan penangkapan massal hingga puluhan ribu orang dan ancaman hukuman mati terhadap sejumlah demonstran. Dunia internasional terus memantau di tengah spekulasi meningkatnya kemungkinan intervensi Amerika Serikat.