JAKARTA “Saya tahu kemampuan saya masih kurang. Tapi saya ingin terus bermain di Korea, di V-League.” Kalimat itu mencerminkan tekad Inkuši, bintang muda asal Mongolia yang kini menjadi magnet penonton terbesar pada V-League. Di balik sorak-sorai ribuan penggemar, realitas di lapangan menunjukkan performa yang belum stabil.
Pertandingan Red Sparks melawan Hyundai Construction pada 16 Januari memperlihatkan keterbatasannya. Sebagai starter, Inkuši hanya mencetak dua poin dengan persentase serangan 14,29% dan enam kali melakukan kesalahan. Ia akhirnya diganti pada set kedua, menyaksikan timnya kalah 0-3 dari bangku cadangan.
Pelatih Jeong Kwan Jang Red Sparks, Ko Hee-jin, berusaha melindunginya. “Irama serangannya belum cocok,” ujarnya, dilansir dari Naver, Senin (19/1/2026). Namun, kritik terhadap kontribusi Inkuši sebagai pemain asing kuota Asia semakin keras, terlebih tim terpuruk dengan empat kekalahan beruntun.
Ancaman Sistem Baru
Mulai musim depan, Federasi Bola Voli Korea (KOVO) akan mengubah sistem perekrutan pemain Asia dari draft menjadi free agency. Klub bebas mendatangkan pemain berpengalaman dengan dana besar. Standar pun naik, dan Red Sparks sendiri merindukan sosok Megawati asal Indonesia yang musim lalu menjadi mesin poin.
Dengan tinggi 180 cm dan pertahanan yang belum solid, posisi Inkuši kian terjepit. Popularitas semata tak cukup di dunia profesional yang menuntut kemenangan.
Jalan Naturalisasi
Sebagai langkah terakhir, pihak Inkuši mengajukan naturalisasi khusus agar bisa masuk draft pemula dan bahkan berpeluang membela tim nasional Korea. “Saya ingin terus bermain di V-League, bahkan sampai menjadi pemain tim nasional Korea,” tegasnya melalui agen.
Preseden sudah ada: Elmo Erheng, pemain Mongolia lain, pernah memperoleh kewarganegaraan Korea lewat jalur serupa dan terpilih sebagai pick pertama.
Namun, Dewan Olahraga Korea menilai naturalisasi berdasarkan kontribusi nyata. Jika performa buruk berulang, peluang Inkuši bisa pupus.
Ikon yang Sulit Dilepas
Meski hasil tim mengecewakan, Inkuši tetap menjadi ikon Jeong Kwan Jang dan magnet penonton. “Semoga Inkuši bisa tetap di V-League meski harus menjadi warga negara Korea,” harap para penggemar.
Kini, nasib sang “Cinderella Mongolia” bergantung pada sisa 4–6 ronde musim ini. Apakah ia mampu bangkit, menembus jalur naturalisasi khusus, dan mempertahankan mimpi “Korean Dream”?
